Konferensi PWI, Berebut Gengsi atau Menjaga Demokrasi?

Oleh: Pranata Meksiko
PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI) Kota Lubuk Linggau kembali menjadi sorotan publik. Hal ini memang biasa terjadi, karena setiap kali konferensi akan digelar, banyak nama muncul yang dinilai layak dan memenuhi syarat untuk menjadi calon kuat nakhoda baru.
Hingga hari ini, tercatat ada tujuh nama yang dianggap memenuhi syarat untuk maju sebagai Ketua PWI Kota Lubuk Linggau. Meskipun satu nama, Muhammad Minor, saat ini lebih sering terdengar, bukan tidak mungkin bahwa enam nama lainnya juga berminat untuk memimpin rumah besar jurnalis tersebut.
Terlepas dari hal ini, kita harus selalu mengingat tujuan dibentuknya organisasi wartawan tertua di Indonesia ini, yaitu menjadi rumah besar bagi para jurnalis, tempat menumbuhkan profesionalisme, menjaga kemerdekaan pers, dan membela kepentingan publik.
Memang bukan rahasia lagi bahwa kursi pimpinan PWI sering dipandang sebagai posisi strategis, menawarkan jejaring luas, akses ke para pemangku kebijakan, serta prestise sosial yang cukup besar.
Namun, kita juga berharap agar orientasi konferensi tidak bergeser dari perjuangan pers, sehingga konferensi PWI tidak hanya menjadi ajang perebutan gengsi dan kepentingan pribadi. Jika itu terjadi, citra PWI tentu akan tergerus.
Alasannya jelas: wartawan seharusnya berada di garis depan dalam mengawal kebenaran, bukan terjebak dalam politik internal.
Mari kita jaga dan rawat bersama organisasi ini. Pastikan PWI tetap pada jati dirinya, yaitu merawat idealisme, mengokohkan solidaritas profesi, dan memastikan pers tetap merdeka.
Ingatlah, jika rumah wartawan terlalu gaduh, bagaimana mungkin kita bisa menjaga suara rakyat agar tetap jernih.
Penulis adalah wartawan di Kota Lubuk Linggau.









