Bau sampah yang samar terbakar adalah penanda datangnya musim panas. Musim kau pergi lekas, di mana gersang melengas sejauh pandang, dipenuhi kerikil hitam tajam, pecahan batu dan ilalang yang kandas. Sementara tunas-tunas rusak dan bergelung-gelung awan putih menusuki matahari yang mati di kubangan lumpur, di bawah pohon beringin, tempat dulu kita pernah berpelukan.
Di sana, kita pernah saling pandang dengan canggung, dilihat ayam dan kucing tetangga dengan mata basah dan menuduh. Semua telah pergi hari ini; hanya daun-daun beringin kering yang tersisa, dan tulisan nama kita terpahat di pokoknya yang tua. Aku tersenyum, tak pernah menyangka perpisahan ternyata membuatku merasa biasa-biasa saja.
Karena, tak ada yang hilang dari sebuah rasa yang diendapkan, ia hanya tersimpan diam-diam, dibungkam dengan kepura-puraan yang semakin hari semakin ingin dibongkar rahasianya.
Tak pernah ada yang hilang, hanya saja semuanya ingin dibiarkan sendirian di sebuah ruang paling sepi, karena pada diamnya rasa selalu ada hangatnya penantian.
Tak ada yang hilang, tak ada yang benar-benar hilang, seperti pokok tua pohon ini yang memahat abadi nama kita.
– Senjaa_again






Sungguh abadi dan sendu sekali
Sangat mendalam kisah mu tuan
Ini puisi yang teruwuw sehingga mewakili perasaan yang lalu
Bang ajarin puisi nya dong
Abadi ini layak Untuk di pertahankan