Oleh: Rara Fitriah
Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Bengkulu
Pertumbuhan penduduk dan dinamika ketenagakerjaan merupakan indikator penting dalam menggambarkan perkembangan sosial ekonomi suatu daerah. Struktur penduduk yang didominasi usia produktif dapat menjadi peluang besar bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut akan memberikan manfaat optimal apabila didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang baik serta tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.
Data publikasi Kota Bengkulu Dalam Angka 2025 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bengkulu menunjukkan bahwa Kota Bengkulu memiliki potensi bonus demografi yang cukup besar, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan di bidang ketenagakerjaan.
Bonus demografi adalah kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif (0–14 tahun dan 65 tahun ke atas). Kondisi ini sering disebut sebagai jendela peluang karena besarnya jumlah penduduk usia kerja dapat mendorong pertumbuhan ekonomi apabila terserap secara optimal dalam kegiatan ekonomi.
Pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa bonus demografi dapat menjadi pendorong kemajuan ekonomi. China menjadi salah satu contoh negara yang berhasil memanfaatkan momentum tersebut melalui industrialisasi serta peningkatan kualitas pendidikan tenaga kerja. Pada periode 1980–2015, pertumbuhan ekonomi China rata-rata mencapai sekitar 9–10 persen per tahun yang didukung oleh melimpahnya tenaga kerja produktif di sektor industri manufaktur.
Data BPS Kota Bengkulu tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Bengkulu mencapai 397.321 jiwa. Komposisi penduduk tersebut didominasi oleh usia produktif (15–64 tahun) sebanyak 276.218 jiwa, sedangkan penduduk nonproduktif (0–14 tahun dan 65 tahun ke atas) berjumlah 121.103 jiwa. Rasio ketergantungan penduduk tercatat sebesar 43,84 persen, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 44 penduduk usia nonproduktif. Rasio ketergantungan yang relatif rendah ini menandakan bahwa Kota Bengkulu sedang berada pada periode bonus demografi yang berpotensi mendukung peningkatan aktivitas ekonomi.
Penduduk usia produktif terdiri atas angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau sedang aktif mencari pekerjaan, sedangkan bukan angkatan kerja mencakup pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, serta penduduk yang tidak bekerja dan tidak aktif mencari pekerjaan. Dari total penduduk usia produktif di Kota Bengkulu, sebanyak 203.217 jiwa termasuk dalam kelompok angkatan kerja, sementara 93.285 jiwa lainnya tergolong bukan angkatan kerja.
Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja mencapai 193.061 orang. Jumlah pengangguran terbuka tercatat sebanyak 10.156 orang atau sekitar 5 persen dari total angkatan kerja. Pengangguran terbuka merupakan penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja tetapi belum memperoleh pekerjaan dan masih aktif mencari pekerjaan. Data tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat penduduk yang masuk dalam angkatan kerja namun belum terserap sepenuhnya dalam pasar kerja.
Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar angkatan kerja masih didominasi oleh lulusan SMA ke bawah yang mencapai 128.654 orang atau 63,3 persen, sedangkan lulusan perguruan tinggi tercatat sebanyak 74.563 orang atau 36,7 persen. Komposisi ini menggambarkan bahwa kualitas pendidikan tenaga kerja masih perlu ditingkatkan agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan perkembangan teknologi.
Dilihat dari status pekerjaan utama, struktur ketenagakerjaan Kota Bengkulu masih didominasi oleh buruh, karyawan, atau pegawai sebanyak 95.658 orang atau 49,6 persen. Penduduk yang berusaha sendiri atau berwirausaha tercatat sebanyak 39.240 orang atau 20,3 persen dari total penduduk yang bekerja. Di sisi lain, masih terdapat pekerja bebas yang jumlahnya cukup besar, mencapai 12.625 orang atau 6,5 persen dari total penduduk yang bekerja. Pekerja bebas umumnya bekerja di sektor informal dengan tingkat kepastian pendapatan yang relatif rendah dan perlindungan ketenagakerjaan yang terbatas.
Kewirausahaan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan aktivitas ekonomi. Namun, jika ditinjau lebih dalam, sebagian besar wirausaha tersebut masih tergolong sebagai wirausaha pemula, yaitu berusaha sendiri atau dibantu buruh tidak tetap dan tidak dibayar.
Sementara itu, wirausaha yang telah berkembang dan dibantu oleh buruh tetap jumlahnya relatif sangat sedikit, yaitu sekitar 11.324 jiwa atau 2,87 persen dari total penduduk. Angka tersebut masih berada di bawah standar minimal sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Dalam aturan tersebut, suatu wilayah membutuhkan minimal 4 persen wirausaha dari total penduduk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang dinamis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketenagakerjaan di Kota Bengkulu belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi karena jumlah wirausaha yang masih terbatas.
Tantangan Ketenagakerjaan Kota Bengkulu
Dominasi tenaga kerja berpendidikan menengah sebesar 63,3 persen belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan sektor industri dan jasa modern yang memerlukan keterampilan khusus. Keberadaan pekerja bebas sebesar 6,5 persen juga menunjukkan masih banyak tenaga kerja yang bekerja di sektor informal dengan perlindungan terbatas.
Kondisi tersebut berdampak pada produktivitas tenaga kerja yang belum optimal dan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif rendah. Data BPS Kota Bengkulu menunjukkan bahwa angka kemiskinan tahun 2024 masih mencapai 13,76 persen atau sekitar 52.960 jiwa.
Pekerja sektor informal umumnya belum memiliki perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan seperti BPJS Ketenagakerjaan, sehingga mereka lebih rentan mengalami penurunan kesejahteraan saat terjadi guncangan ekonomi.
Berdasarkan data yang telah diuraikan, kondisi demografi tenaga kerja di Kota Bengkulu menunjukkan bahwa penduduk usia produktif (15–64 tahun) didominasi oleh angkatan kerja dengan tingkat pendidikan menengah serta struktur pekerjaan yang masih terkonsentrasi pada buruh, karyawan, dan pekerja sektor informal.
Proporsi wirausaha memang terlihat cukup tinggi secara kuantitas, namun sebagian besar masih tergolong sebagai wirausaha pemula dengan skala usaha kecil dan daya serap tenaga kerja yang terbatas. Di sisi lain, keberadaan pekerja bebas yang relatif tinggi mencerminkan masih besarnya ketergantungan pada sektor informal dengan tingkat kepastian pendapatan yang rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa secara demografis Kota Bengkulu memiliki potensi tenaga kerja yang besar, tetapi kualitas dan produktivitasnya masih belum optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara maksimal.
Bonus demografi dapat berubah menjadi beban apabila penduduk usia produktif tidak memiliki pekerjaan yang layak atau bekerja pada sektor dengan produktivitas rendah. Target pertumbuhan ekonomi dapat terhambat karena usia produktif yang menganggur atau bekerja secara informal tidak memberikan kontribusi optimal terhadap perekonomian. Alih-alih menjadi penggerak ekonomi, penduduk usia produktif yang tidak produktif justru meningkatkan beban ketergantungan sosial.
Potensi bonus demografi di Kota Bengkulu masih terbuka luas apabila didukung oleh kebijakan yang tepat. Pemerintah daerah perlu memperkuat program pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri serta memperluas perlindungan sosial bagi tenaga kerja sektor informal.
Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi berperan penting dalam menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan. Dunia usaha juga memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja yang berkualitas sekaligus menyampaikan kebutuhan keterampilan tenaga kerja.
Sinergi berbagai pihak tersebut menjadi kunci agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Bengkulu.
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Bengkulu dan magang di BPS Kota Bengkulu.





