Oleh: Oktaliansyah
IDULADHA tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi saya. Bukan karena jumlah hewan kurban yang disembelih, bukan pula karena ramainya masyarakat yang datang ke Masjid Nurmiah, tetapi karena untuk pertama kalinya saya benar-benar terlibat aktif sebagai panitia kurban di lingkungan perumahan tempat saya tinggal sendiri.
Padahal, saya sudah cukup lama memiliki rumah di Perumahan Tebat Rapak, Desa Dusun Baru 1, Kecamatan Pondok Kubang, Kabupaten Bengkulu Tengah. Namun selama ini, saya jarang tinggal lama di sana sehingga belum banyak mengenal kehidupan sosial masyarakat sekitar. Saya datang, tinggal sebentar, lalu kembali sibuk dengan aktivitas di luar. Hubungan dengan warga sebatas saling sapa seperlunya.
Karena itu, ketika akhirnya ikut menjadi panitia kurban tahun ini, saya merasa seperti sedang memasuki ruang baru yang selama ini belum benar-benar saya kenal.
Sebenarnya, menjadi panitia kurban bukan pengalaman pertama bagi saya. Di tempat lain, saya sudah cukup sering ikut membantu kegiatan serupa. Tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda ketika melakukannya di lingkungan sendiri. Ada rasa memiliki, ada kedekatan emosional, dan ada perasaan bahwa saya bukan lagi sekadar penghuni rumah, melainkan bagian dari masyarakat itu sendiri.
Sejak pagi hari, suasana gotong royong sudah begitu terasa. Orang-orang datang dengan perannya masing-masing. Ada yang sibuk menyiapkan tempat, ada yang mengatur pembagian tugas, ada yang membantu proses penyembelihan, hingga ada yang mengemas dan membagikan daging kurban kepada masyarakat.
Tahun ini, Masjid Nurmiah menyembelih delapan ekor sapi dan satu ekor kambing. Di tengah kesibukan itu, saya justru menemukan banyak pelajaran hidup yang mungkin selama ini luput saya sadari.
Saya belajar bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari hubungan yang sudah lama terjalin. Kadang, kebersamaan tumbuh dari pekerjaan yang dilakukan bersama-sama dengan tulus.
Saya juga belajar memahami manusia dari sisi yang lebih nyata.
Ada teman yang sebelumnya saya kira biasa saja, pendiam, bahkan terkesan tidak terlalu menonjol. Namun ketika kegiatan berlangsung, justru ia menjadi salah satu orang yang paling bertanggung jawab. Ia bekerja tanpa banyak bicara, tidak mencari perhatian, tetapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Ia menyelesaikan pekerjaan dengan tenang dan penuh kesadaran.
Dari situ saya sadar, tidak semua orang hebat harus terlihat mencolok.
Sebaliknya, ada juga yang awalnya terlihat sangat ahli, seolah paling siap dan paling memahami semua hal. Namun ketika pekerjaan dimulai, ternyata kemampuannya biasa saja. Meski demikian, saya tetap menghargainya karena ia tetap bertahan, tetap membantu, dan tetap bertanggung jawab sampai kegiatan selesai.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa dalam kebersamaan, kesempurnaan bukan hal utama. Yang paling penting adalah kemauan untuk tetap hadir dan ikut memikul tanggung jawab bersama.
Di sela-sela pekerjaan, ada tawa kecil, candaan sederhana, dan obrolan ringan yang justru membuat suasana terasa hangat. Hal-hal sederhana seperti itulah yang perlahan membangun rasa kekeluargaan.
Saya mulai mengenal orang-orang yang sebelumnya hanya saya lihat sekilas. Saya mulai memahami bahwa lingkungan bukan hanya kumpulan rumah yang berdiri berdampingan, melainkan tempat tumbuhnya kepedulian dan hubungan antarmanusia.
Ketua Panitia Kurban, Sapri, mengatakan pelaksanaan kurban tahun ini berjalan lancar berkat kerja sama seluruh panitia dan masyarakat. Sebanyak 670 kupon daging kurban dibagikan kepada warga sekitar Perumahan Tebat Rapak dan Desa Dusun Baru 1.
Sementara itu, Ketua BKM, dan Imam Masjid Nurmiah, menyebut Iduladha bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah dan semangat gotong royong masyarakat.
Dan saya merasakan langsung makna dari ucapan itu.
Bagi saya pribadi, Iduladha tahun ini bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ini adalah tentang menyembelih rasa asing terhadap lingkungan sendiri. Tentang membuka diri untuk hadir di tengah masyarakat. Tentang belajar menghargai orang lain, memahami karakter manusia, dan menyadari bahwa kebersamaan sering lahir dari kerja keras yang dilakukan bersama-sama.
Di balik darah kurban, peluh panitia, dan ramainya pembagian daging, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa memiliki dan arti kebersamaan yang sesungguhnya.





