Alaku

Gerakan Tari Tarek Pukat sebagai Cerminan Kehidupan Masyarakat Pesisir Aceh

Gerakan Tari Tarek Pukat sebagai Cerminan Kehidupan Masyarakat Pesisir Aceh Oleh Anzalika Anzahra Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe 
Daftar Isi: [Sembunyikan] [Tampilkan]

Oleh Anzalika Anzahra
Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe 

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan seni dan budaya, salah satunya seni tari tradisional. Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan seni tari adalah Aceh. Berbagai tarian tradisional Aceh mengandung makna yang mendalam, salah satunya Tari Tarek Pukat. Tari Tarek Pukat merupakan tarian tradisional Aceh yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang bekerja menangkap ikan menggunakan pukat atau jaring. Penggunaan jaring dalam tarian ini bukan hanya sebagai alat untuk menangkap ikan, tetapi juga menjadi simbol kerja sama yang erat di kalangan masyarakat pesisir. Tarian ini mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, kerja keras, dan kekompakan yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir. Dalam perkembangannya, Tari Tarek Pukat juga dibawakan secara kolaboratif oleh penari laki-laki dan perempuan. Kehadiran kedua kelompok penari tersebut semakin memperkuat makna bahwa pekerjaan menangkap ikan tidak hanya melibatkan para nelayan, tetapi juga didukung oleh masyarakat di sekitarnya.

Pertunjukan tari dimulai dengan syair “Kayoh” yang diulang sebanyak enam kali. Syair ini berfungsi sebagai pembuka sekaligus membangkitkan semangat para penari sebelum memasuki bagian inti pertunjukan. Selanjutnya terdengar syair “Jenara” yang diulang satu kali sebagai penanda dimulainya rangkaian gerakan utama.

Kemudian, setiap penari mengambil seutas tali lalu membungkukkan tubuh sambil menggulung tali tersebut di tangan masing-masing. Gerakan ini menggambarkan persiapan para nelayan sebelum menangkap ikan, seperti memasang pukat atau jaring yang akan digunakan. Postur tubuh yang membungkuk melambangkan kejujuran dan keberanian dalam memulai suatu pekerjaan.

Saat terdengar syair “Tarek pukat rekan beh,” seluruh penari melakukan gerakan memukul paha secara perlahan sambil mengayunkan tangan yang memegang gulungan tali. Gerakan ini dilakukan secara serempak untuk memperlihatkan semangat saling membantu para nelayan ketika mulai menarik jaring yang telah dipenuhi ikan.

Pada lirik “Tarek me tarek bek keundo,” beberapa penari melakukan gerakan setengah berdiri, sementara penari lainnya tetap berada dalam posisi duduk. Penari yang setengah berdiri mengangkat tangan kanan dan kiri secara bersamaan. Gerakan ini menunjukkan bahwa para nelayan terlebih dahulu membagi tugas saat menarik jaring sehingga pekerjaan menjadi lebih mudah dan teratur.

Memasuki lirik kedua, “Tarek pukat rekan lon,” setiap penari mulai mengambil tali yang dipegang oleh penari lain. Satu tangan memegang tali dari depan, sedangkan tangan lainnya memegang tali dari belakang. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh tali saling terhubung.

Setelah semua tali tersambung, para penari menggenggam tali tersebut lalu mengayunkannya sambil terus memukul paha. Gerakan diawali dengan tempo lambat, kemudian semakin cepat. Perubahan tempo ini menunjukkan bahwa para nelayan semakin giat saat mulai menarik jaring yang telah penuh dengan ikan.

Pada gerakan berikutnya, beberapa penari berada dalam posisi setengah berdiri, sedangkan yang lain tetap duduk sambil mengayunkan tali yang telah terhubung ke arah kiri dan kanan secara berulang. Selanjutnya, para penari memperlihatkan tali yang telah membentuk jaring sambil terus mengayunkan kedua tangan ke samping. Bentuk jaring tersebut melambangkan hasil kerja sama seluruh nelayan dalam menciptakan alat penangkap ikan yang kokoh.

Menjelang akhir pertunjukan, para penari berdiri secara perlahan sambil mengangkat salah satu kaki. Beberapa penari juga membungkukkan badan sambil menggerakkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri secara bersamaan. Gerakan ini menggambarkan perjuangan para nelayan saat menghadapi tantangan menarik jaring yang dipenuhi berbagai jenis ikan.

Setelah itu, para penari kembali memperlihatkan jaring yang telah terbentuk sebagai simbol bahwa seluruh tahapan pekerjaan telah dilakukan dengan baik sehingga menghasilkan hasil yang diharapkan. Pada bagian penutup, seluruh penari mengayunkan kedua tangan yang telah terlilit tali sambil memukul paha secara perlahan dengan tempo yang semakin cepat. Pertunjukan diakhiri dengan memperlihatkan jaring atau jala ikan yang telah terbentuk secara sempurna. Gerakan penutup ini melambangkan keberhasilan para nelayan dalam menarik jaring yang telah dipenuhi berbagai jenis ikan sekaligus mengekspresikan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut.

Daftar Pustaka

Abdha, Julia Arsyka, dan Laila Rohani. “Dinamika Tradisi Tari Gubang pada Suku Melayu di Kecamatan Tanjungbalai.” Mukadimah: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-Ilmu Sosial 7, no. 2 (2023): 485–494. https://doi.org/10.30743/mkd.v7i2.7922.

Basri, Novysa, dkk. “Character Values Education Through Tarek Pukat Dance for UNIKI Performing Arts Education Students.” Catharsis: Journal of Arts Education 14, no. 1 (2025): 1–9. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/chatarsis.

Fitriani. “Nelayan sebagai Ide Pencipta Tari Tarek Pukat dalam Kajian Interaksi Simbolik.” Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni 15, no. 2 (2017): 179–188. https://doi.org/10.21831/imaji.v15i2.18294.

Fitriani, Riza Oktariana, dan Liza Fidiawati. “Tarek Pukat Aceh: Bentuk Ekspresi Kehidupan Masyarakat Pesisir Aceh dan Upaya Pewarisannya di TK Negeri 5 Banda Aceh.” Journal of Education Science 9 (2023).

Yusuf, Yusri, dkk. “Tari Troen U Laôt: Identitas Masyarakat Pesisir Pidie.” Gondang: Jurnal Seni dan Budaya 5, no. 1 (2021): 108–118. https://doi.org/10.24114/gondang.v5i1.23973.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan