Ketika Stoisisme Menjadi Tren: Salah Tafsir yang Mengancam Kesehatan Mental Generasi Z

Oleh: Aqilah Nafisah Primadi
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia
“People will take your kindness for granted.”
Pernyataan serupa mungkin pernah muncul di beranda TikTok atau Instagram Anda. Biasanya ditampilkan dengan iringan musik yang tenang, memperlihatkan seseorang yang berjalan sendiri, lalu diakhiri dengan tagar seperti #stoicism, #marcusaurelius, atau #selfimprovement. Tak jarang, muncul pula kalimat seperti “Never show your emotions”, “Detach from everyone”, atau “Your silence is your power”.
Seiring waktu, pesan yang diterima mulai terlihat jelas: jika ingin menjadi kuat, bersikaplah dingin. Jangan terlalu peduli kepada orang lain. Hindari menunjukkan perasaan.
Permasalahannya, banyak dari pesan tersebut bukanlah inti dari Stoisisme.
Dalam beberapa tahun terakhir, Stoisisme memang telah menjadi salah satu filsafat yang paling diminati di platform media sosial. Kutipan dari Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus dibagikan dalam jumlah yang luar biasa dan disajikan dalam format konten pendek yang mudah dicerna. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, fenomena ini sebenarnya patut diapresiasi. Setidaknya, filsafat kembali menjadi bagian dari diskusi publik.
Namun, popularitas sering kali datang bersama penyederhanaan.
Media sosial beroperasi dengan logika yang menekankan konten singkat, emosional, dan mudah dibagikan. Akibatnya, pemikiran yang lahir dari refleksi mendalam dipotong menjadi slogan-slogan motivasi yang terdengar bijaksana, tetapi kehilangan makna. Stoisisme pun perlahan bertransformasi dari sebuah cara hidup menjadi sekadar estetika konten.
Ironisnya, yang paling banyak menjadi viral justru bukan ajaran Stoik itu sendiri, melainkan tafsiran modern yang mencampur Stoisisme dengan budaya self-help, grind culture, hingga narasi alpha atau sigma male. Ketenangan dipahami sebagai sikap tidak acuh. Mengendalikan emosi dimaknai sebagai menahan perasaan. Ketahanan berubah menjadi menarik diri dari orang lain.
Padahal, ajaran Stoisisme tidak pernah mengajarkan manusia untuk berhenti merasakan sesuatu.
Salah satu konsep inti Stoisisme adalah membedakan antara apa yang dapat kita kendalikan dan apa yang tidak. Pikiran, keputusan, dan tindakan merupakan tanggung jawab kita sendiri. Sebaliknya, opini orang lain, hasil akhir, dan keadaan di luar diri kita bukanlah hal-hal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Tujuan Stoisisme bukanlah membuat individu kebal terhadap perasaan, melainkan membantu mereka merespons kehidupan dengan cara yang lebih bijaksana.
Bahkan, Marcus Aurelius sering mengingatkan bahwa manusia diciptakan untuk saling bekerja sama dan membantu satu sama lain. Artinya, Stoisisme tidak pernah mengajak orang bersikap acuh tak acuh atau memutus hubungan emosional dengan sesama. Yang diajarkan adalah bagaimana menjaga nilai-nilai moral dan ketenangan batin tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Sayangnya, ketika pesan di media sosial hanya mengedepankan aspek “jangan peduli” atau “jadilah kebal”, makna Stoisisme mulai bergeser. Mengelola emosi sering disalahartikan sebagai menekan emosi. Kesedihan dipandang sebagai kelemahan. Meminta pertolongan dianggap menurunkan gengsi. Akibatnya, banyak orang merasa harus selalu tampak kuat, meskipun di dalam dirinya tersimpan emosi yang belum sepenuhnya diproses.
Di sinilah masalahnya muncul.
Generasi Z hidup di tengah berbagai tekanan yang tidak ringan. Persaingan di sekolah, ketidakpastian masa depan, tuntutan untuk selalu produktif, serta budaya membandingkan diri di media sosial membuat banyak anak muda mencari pegangan hidup. Ketika konsep Stoisisme menawarkan solusi yang tampak sederhana seperti “jangan peduli”, tidak mengherankan jika banyak yang menganggapnya sebagai jalan keluar.
Padahal, kesehatan mental tidak dapat dibangun dengan mengabaikan emosi.
Kedewasaan tidak identik dengan kemampuan menghadapi segala sesuatu sendirian. Sebaliknya, memahami perasaan yang kita alami, mengakuinya, lalu memilih cara terbaik untuk merespons merupakan bagian dari ketahanan mental yang sehat.
Oleh karena itu, isu yang kita hadapi saat ini bukanlah Stoisisme itu sendiri. Persoalannya terletak pada bagaimana media sosial mengubah filsafat menjadi kutipan-kutipan motivasi yang kehilangan makna. Ketika refleksi digantikan oleh slogan-slogan, filsafat kehilangan esensinya sebagai praktik hidup dan bertransformasi menjadi sekadar konten.
Mungkin yang perlu kita lakukan bukan berhenti membaca Stoisisme, melainkan berhenti mengonsumsinya secara instan. Sebab, filsafat tidak pernah menawarkan jalan pintas. Ia mengajak kita berpikir lebih mendalam, memahami diri dengan lebih jujur, dan menerima bahwa menjadi manusia berarti tetap merasakan emosi tanpa harus diperbudak oleh emosi tersebut.









