Alaku

Media Sosial dan Ilusi Rasa Tertinggal: Sebuah Pembacaan Sartre

Media Sosial dan Ilusi Rasa Tertinggal: Sebuah Pembacaan Sartre (foto dok canva)
Daftar Isi: [Sembunyikan] [Tampilkan]

Oleh: Rezzy Tikaso
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia

Benarkah kita sedang tertinggal, atau jangan-jangan kita hanya terlalu sering melihat orang lain berlari?

Coba ingat, kapan terakhir kali kita membuka Instagram tanpa membandingkan hidup sendiri dengan orang lain? Kita masuk ke Instagram dengan niat yang sederhana: melihat beberapa story teman, postingan terbaru, lalu berpindah ke media sosial lain. Rasanya lima menit sudah lebih dari cukup.

Nyatanya, yang habis bukan hanya lima menit itu. Pikiran kita pun ikut terseret ke mana-mana. Baru selesai mengetuk beberapa story, kepala mulai sibuk membuat perbandingan yang bahkan tidak pernah kita minta.

“Kok hidup orang lain kelihatannya selalu selangkah di depan, ya?”

Teman yang sedang menikmati liburan membuat kita tiba-tiba menghitung isi rekening. Postingan teman yang baru wisuda membuat kita mulai bertanya tentang masa depan sendiri. Tanpa sadar, semua itu berubah seolah-olah menjadi pengingat bahwa hidup orang lain terus bergerak.

Di sisi lain, kita masih bergelut dengan rutinitas yang terasa biasa-biasa saja. Masih mengejar deadline tugas, mencari tempat magang, mencoba membangun semangat setiap pagi, sambil sesekali bertanya apakah jalan yang sedang dijalani sudah benar.

Di media sosial, pencapaian selalu lebih mudah terlihat daripada proses yang mengantarkannya. Kita jarang menyaksikan kegagalan, keraguan, atau penolakan yang datang sebelumnya. Akibatnya, kita mengira itulah kenyataan sehari-hari, padahal yang muncul hanyalah bagian yang memang dipilih untuk ditampilkan.

Tidak heran jika rasa tertinggal semakin mudah muncul di kalangan anak muda. Bukan karena mereka benar-benar berjalan lebih lambat, melainkan karena media sosial membuat perjalanan yang berbeda-beda terlihat seperti satu perlombaan dengan garis start dan garis finis yang sama.

Kalau dipikir-pikir lagi, rasa tertinggal itu bukan semata-mata lahir karena media sosial. Media sosial hanya memperbesar sesuatu yang sebenarnya sudah lama dibahas dalam filsafat, yaitu kecenderungan manusia mendefinisikan dirinya melalui orang lain.

Fenomena ini memiliki kaitan erat dengan pemikiran filsuf Jean-Paul Sartre melalui filsafat eksistensialisme. Bagi Sartre, manusia tidak memiliki tujuan hidup yang sudah ditentukan sejak awal. Tidak ada usia yang mewajibkan seseorang sudah mapan, menikah, atau menemukan pekerjaan impian. Semua itu merupakan pilihan yang dibentuk oleh manusia sendiri.

Sederhananya, manusia adalah makhluk yang bertugas menciptakan makna hidupnya sendiri. Namun, masalahnya, kebebasan itu sering kali terasa menakutkan. Ketika tidak ada satu aturan pasti tentang bagaimana hidup harus dijalani, manusia mulai mencari standar dari luar dirinya.

Di sinilah jebakan itu muncul. Tanpa sadar, kita menganggap ada urutan hidup yang wajib diikuti. Padahal, siapa yang membuat aturan tersebut? Siapa yang menentukan bahwa pada usia 22 tahun seseorang harus sudah mengetahui arah masa depannya?

Sering kali jawabannya adalah tidak ada. Kita hanya mengikuti perlombaan yang dibentuk oleh lingkungan sosial.

Sartre juga membahas konsep The Look, yaitu bagaimana pandangan orang lain dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Konsep ini semakin relevan di era media sosial.

Misalnya, seseorang bisa merasa bangga bukan hanya karena berhasil menyelesaikan skripsi, tetapi juga karena unggahan wisudanya memperoleh ribuan likes. Sebaliknya, orang lain bisa merasa gagal bukan karena hidupnya buruk, melainkan karena melihat temannya mendapatkan lebih banyak pengakuan. Nilai diri akhirnya tidak lagi ditentukan oleh pengalaman pribadi, tetapi oleh bagaimana pengalaman tersebut dilihat dan dinilai oleh orang lain.

Dengan kata lain, media sosial bukanlah penyebab utama munculnya rasa tertinggal. Ia hanya mempercepat kecenderungan manusia untuk melihat dirinya melalui pandangan orang lain. Yang berubah bukan sifat manusianya, melainkan jumlah “mata” yang kini terus mengawasi. Jika dahulu kita hanya membandingkan diri dengan teman sekelas atau tetangga, kini pembanding itu datang dari ratusan bahkan ribuan orang setiap kali membuka aplikasi.

Mungkin Kita Tidak Terlambat

Masalah terbesar generasi saat ini bukanlah kurangnya kesempatan, melainkan terlalu banyaknya perbandingan. Kita terlalu sibuk melihat siapa yang sudah sampai, lalu lupa memperhatikan langkah sendiri.

Mungkin karena itulah persoalan utama generasi digital bukan sekadar kecanduan media sosial, melainkan kecenderungan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran bagi kehidupan sendiri.

Padahal, seperti yang diingatkan Sartre, makna hidup tidak pernah ditemukan dalam postingan orang lain. Yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri bukanlah seberapa cepat ia mampu menyamai pencapaian orang lain, melainkan keberaniannya untuk menentukan jalan hidup yang memang ia pilih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan