Oleh: Nadia Anatasya Putri
Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu
Di tengah tumpukan tugas kuliah dan tekanan deadline yang datang hampir tanpa jeda, kehadiran Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan akademik mahasiswa sehari-hari. Hanya dalam hitungan detik, AI mampu merangkum jurnal ratusan halaman, menyusun draf esai, menerjemahkan artikel ilmiah, bahkan membantu membuat presentasi yang tampak rapi dan profesional. Bagi banyak mahasiswa, teknologi ini terasa seperti “penyelamat” di tengah ritme perkuliahan yang semakin cepat dan kompetitif.
Fenomena tersebut bukan sekadar kesan pribadi. Data Katadata Insight Center (2023) mengungkap bahwa 83,6 persen masyarakat Indonesia sudah akrab dengan kecerdasan buatan (AI). Temuan ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi konsep asing, melainkan bagian dari aktivitas harian masyarakat, termasuk generasi muda dalam memenuhi kebutuhan akademik. Di tingkat global, McKinsey & Company juga mencatat bahwa AI generatif mampu meningkatkan efisiensi kerja hingga 40 persen. Tidak mengherankan jika mahasiswa kemudian menjadikan AI sebagai alat utama untuk menyelesaikan berbagai tuntutan akademik secara lebih praktis dan cepat.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah AI benar-benar membantu mahasiswa belajar, atau justru perlahan menggeser esensi proses berpikir itu sendiri?
Saat ini, banyak mahasiswa menjadikan AI sebagai “langkah pertama” sebelum membuka buku, membaca jurnal, atau mencoba memahami teori secara mandiri. Ketika menemui konsep yang rumit, mahasiswa lebih memilih bertanya kepada ChatGPT dibanding berusaha menelusuri sumber bacaan secara langsung. Dalam batas tertentu, hal ini tentu tidak sepenuhnya salah. Penelitian dari Stanford University (2024) menunjukkan bahwa AI dapat berfungsi sebagai tutor personal yang efektif karena mampu menjelaskan materi kompleks dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.
Masalah mulai muncul ketika AI tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, melainkan menjadi jalan pintas utama. Perlahan, terjadi perubahan pola pikir dalam proses belajar mahasiswa. Pertanyaan “bagaimana cara memahami persoalan ini?” mulai bergeser menjadi “prompt apa yang harus digunakan agar jawaban cepat keluar?”. Fokus pembelajaran tidak lagi berada pada proses memahami, melainkan pada kemampuan memperoleh hasil secara instan.
Padahal, inti pendidikan tinggi sejatinya bukan sekadar menghasilkan jawaban benar, melainkan melatih kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan analitis. Proses membaca yang melelahkan, kebingungan saat memahami teori, hingga perdebatan panjang dalam diskusi akademik merupakan bagian penting dalam membentuk kedalaman intelektual seseorang. Ketika seluruh proses tersebut digantikan oleh jawaban instan dari AI, ada risiko bahwa mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikirnya sendiri.
Zygmunt Bauman melalui gagasannya tentang liquid modernity menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam budaya yang serba cepat, cair, dan instan. Dalam masyarakat seperti ini, efisiensi sering kali lebih dihargai dibanding proses. Fenomena penggunaan AI di dunia akademik memperlihatkan gejala tersebut. Mahasiswa tidak lagi berlomba memahami teori secara mendalam, tetapi cenderung mencari cara tercepat untuk memperoleh jawaban. Akibatnya, proses berpikir yang seharusnya menjadi inti pendidikan perlahan tergeser oleh budaya praktis dan instan.
OECD (2021) bahkan telah mengingatkan bahwa kemudahan teknologi digital berpotensi menurunkan kualitas deep learning atau pembelajaran mendalam. Informasi yang diperoleh secara cepat sering kali hanya dipahami di permukaan tanpa melalui proses analisis yang matang. Akibatnya, mahasiswa mungkin terlihat produktif secara akademik, tetapi sebenarnya semakin jauh dari kemampuan memahami persoalan secara kritis dan mendalam.
Fenomena ini mulai terlihat dalam kehidupan kampus sehari-hari. Tidak sedikit mahasiswa yang mampu menghasilkan tugas dengan cepat, tetapi kesulitan menjelaskan kembali isi tulisannya saat berdiskusi di kelas. Ada pula mahasiswa yang aktif mengumpulkan tugas, tetapi semakin jarang membaca sumber asli secara utuh. Dalam kondisi seperti ini, kampus berisiko melahirkan generasi yang kaya informasi, tetapi miskin pemahaman.
Meski demikian, menolak AI sepenuhnya tentu bukan solusi yang realistis. Dunia kerja masa depan justru menuntut kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital. World Economic Forum (2023) memprediksi bahwa kemampuan menggunakan AI dan keterampilan digital akan menjadi salah satu kompetensi paling dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang. Artinya, persoalan utamanya bukan terletak pada penggunaan AI itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia memposisikan teknologi tersebut.
AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikannya. Menggunakan AI untuk mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, atau memantik ide awal merupakan langkah yang cerdas. Namun, proses memahami, mengkritisi, dan mengembangkan gagasan tetap harus menjadi pekerjaan utama manusia. Sebab, AI dapat menyediakan informasi, tetapi tidak memiliki empati, pengalaman sosial, intuisi, maupun kemampuan reflektif yang menjadi inti dari pemikiran manusia.
Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi mahasiswa hari ini bukanlah bagaimana menghindari AI, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia yang berpikir di tengah kemudahan teknologi. Jika kampus hanya menghasilkan mahasiswa yang mahir memberi prompt, tetapi kehilangan kemampuan membaca secara kritis dan merefleksikan pengetahuan, maka yang lahir bukan generasi intelektual, melainkan sekadar operator algoritma.
Referensi
- Analisis Monografis Liquid Modernity Zygmunt Bauman: Ringkasan Isi Buku, Konsep Modernitas Cair, dan Relevansinya Hari Ini
- Survei KIC: 83,6 Persen Masyarakat Indonesia Familiar dengan AI – Katadata.co.id
- Economic Potential of Generative AI – McKinsey & Company
- Stanford’s AI-Assisted Tutoring Study – AI for Education
- The Future of Jobs Report 2023 – World Economic Forum
Penulis adalah mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Teknologi.





