Alaku

Katanya “No Money”, tapi Kok Selalu “Yuk Ngopi”? Filsafat di Balik Lipstick Economy

Katanya “No Money”, tapi Kok Selalu “Yuk Ngopi”? Filsafat di Balik Lipstick Economy (ilustrasi by Kezia Afila Sitio)

Oleh Kezia Afila Sitio
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Siklus hidup saya dan teman-teman saya di kampus terlalu mudah untuk diprediksi. Di minggu-minggu terakhir setiap bulan, grup WhatsApp geng kami selalu dipenuhi rengekan dan tangisan para anak rantau yang kangen dengan masakan mamanya. Omongan seperti, “Duit gue udah ilang semua” atau “When ya punya uang?” adalah kata-kata yang terlalu sering saya lihat muncul secara random di tengah obrolan kami.

Namun, ada satu fenomena paradoks ajaib yang muncul bersamaan dengan kehadiran si rengekan tadi. Ajakan “Yuk ngopi” atau “Stop nugas, mari kita healing” tetap mendapatkan jawaban, “Gas!” dan “OTW bentar lagi.” Keseretan isi dompet tidak pernah menjadi halangan untuk kami tetap hang out.

Ketika sudah bertemu di meja kafe, saldo m-banking yang seharusnya cukup untuk makan seminggu pun langsung hilang ditelan kehampaan matcha latte dan potato wedges.

Saya jadi suka mikir keras. Katanya kita lagi di zaman “miskin-miskinnya”, tapi kenapa jajan kopi, seblak, Dubai chewy cookie—yang harga satu bijinya bisa Rp30 ribu—malah makin lancar? Kenapa setiap ada skincare yang viral, bisa langsung kita beli? Kenapa kita lebih memilih langganan Spotify setiap bulan daripada menabung untuk mencicil UKT?

Bukannya kita lagi miskin?

Kenapa Kita Memilih untuk Bahagia Sekarang?

Tidak tepat kalau perilaku tersebut sekadar dikatakan sebagai bentuk pemborosan. Ternyata, ada penjelasan yang cukup masuk akal di balik fenomena tersebut.

Dunia yang saat ini kita tinggali sudah sangat berbeda dengan zaman dulu. Kopi dan skincare adalah barang-barang yang bisa kita kontrol. Coba kalau kita bandingkan dengan rencana membeli rumah. Setiap tahun harga tanah semakin tidak manusiawi, sementara gaji anak magang—yang biasanya tak digaji—saja tidak sampai UMR.

Mau mencoba menabung Rp3 juta per bulan untuk mencicil mobil? Jangan kebanyakan mimpi.

Ketika rencana jangka panjang mulai terlihat mustahil, manusia cenderung mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal dan kebahagiaan yang bisa dimilikinya hari ini.

Manusia membeli barang-barang kecil ini sebagai bentuk micro-reward. Setelah melewati minggu UTS yang menyiksa atau ketika berhasil mendapatkan nilai A di kuis, “Paket Combo Cheesecake plus Matcha hanya Rp70 ribu” bukan lagi sekadar camilan, melainkan sebuah “piala” kecil atas keberhasilan kita melewati tantangan hidup.

Jadi, daripada menyiksa diri untuk menunggu “kebahagiaan” di masa depan, manusia lebih memilih untuk merayakan hari ini dengan memberikan dirinya penghargaan sebagai bentuk bahwa ia masih memiliki kendali atas hidupnya.

Mengenal Apa Itu The Lipstick Effect

Perilaku seperti ini sudah memiliki nama dalam ilmu ekonomi, yaitu The Lipstick Effect atau Lipstick Economy.

Istilah ini dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan CEO merek kosmetik Estée Lauder, ketika dunia sedang menghadapi dampak krisis 9/11 dan krisis ekonomi global pada 2001.

Lauder menyadari satu anomali. Saat penjualan barang-barang mewah seperti mobil anjlok, penjualan lipstik mereka justru naik secara signifikan.

Kalau kita pikirkan secara logika, lipstik bukanlah kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Namun, lipstik adalah barang mewah kecil yang relatif terjangkau. Bagi seseorang, membeli lipstik ketika ia tidak sanggup membeli kemewahan yang sebenarnya dapat memberikan rasa lega dan kepuasan emosional yang mirip dengan perasaan membeli barang mewah sesungguhnya, tanpa harus membuat dompet bangkrut.

Akar Filsafat: Yang Sesungguhnya Terjadi di Balik Panggung

Anomali ini bisa kita lihat dan ulik dari dua kacamata filsafat manusia, yaitu eksistensialisme dan hedonisme Epicurus.

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus mengatakan bahwa dunia pada dasarnya absurd dan penuh ketidakpastian. Masa depan kita yang gelap dan suram, juga kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sakit-sakitan ini, adalah salah satu contohnya.

Dalam keadaan yang tidak pasti ini, manusia merasa perlu untuk memperjelas keberadaannya.

Waktu saya membeli ramen porsi jumbo dan es teh jumbo, sebenarnya saya juga sedang menegaskan kepada dunia bahwa: “Gue masih ada! Gue masih punya kendali dalam hidup gue, nih! Gue masih bisa beli ramen kapan pun gue mau!”

Belanja hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting inilah cara kita untuk tetap waras dan menegaskan eksistensi kita di dunia yang absurd ini.

Ketika dunia yang serba menekan terus berusaha mengendalikan kita, keputusan membeli kopi atau skincare menjadi ruang kecil di mana individu memiliki kendali penuh atas pilihannya.

Mungkin gaya hidup seperti ini memang paling sering dihubungkan dengan gaya hidup hedonis, yang juga kerap dibayangkan sebagai hidup penuh pesta pora dan foya-foya. Padahal, Epicurus menawarkan konsep hedonisme yang jauh lebih sederhana.

Baginya, puncak kebahagiaan tertinggi terletak pada ketiadaan rasa cemas, bukan pada tumpukan harta benda mewah yang nilainya tak terukur.

Epicurus menyarankan agar kita mencari kenikmatan-kenikmatan kecil untuk meredakan kecemasan sehari-hari. Dalam konteks yang sedang kita bicarakan, membeli matcha latte dan Labubu berfungsi persis seperti yang diajarkan oleh Epicurus: kenikmatan sederhana yang hadir untuk meredakan penatnya dunia.

Coping Mechanism untuk Bertahan Hidup

Jadi, ketika kita bilang, “Lagi no money, nih,” tetapi tetap berkata, “Yuk ah, ngopi,” kita tidak sepenuhnya menjadi munafik.

Semuanya menjadi masuk akal karena hal itu merupakan salah satu bentuk coping mechanism kita di dunia yang sedang jatuh-jatuhnya.

Kita bukannya malas menabung atau memang suka foya-foya. Kita sedang berusaha mempertahankan kewarasan di tengah masa kelam ekonomi dan tekanan mental.

Lipstick Economy adalah cara generasi muda untuk memberikan ketenangan dan keadilan kepada dirinya sendiri. Bahwa di tengah suramnya keadaan, kita masih berhak untuk merasakan sedikit saja harapan dan rasa kepuasan, walaupun hanya sesaat.

Kopi yang saya beli bukan sekadar biji cokelat kecil yang digiling, dipanggang, lalu diseduh, melainkan sebuah alat untuk membuat saya tetap merasa hidup dan berdaulat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan