Ketika Negeri Terasa Absurd: Membaca Fenomena “Kabur Aja Dulu” ala Albert Camus

Oleh Faustina Putri Mustika Wijaya
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia
Beberapa minggu yang lalu, frasa “kabur aja dulu” ramai berseliweran di TikTok maupun X. Sekilas, ungkapan ini terdengar seperti candaan khas anak muda yang lelah dengan keadaan. Namun, jika dicermati lebih jauh, di balik nada bercandanya tersimpan persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar tren media sosial.
Fenomena ini lahir dari kekecewaan yang cukup mendalam, terutama di kalangan Generasi Z, terhadap kondisi dalam negeri. Biaya pendidikan yang terus melambung, lapangan pekerjaan yang terbatas, upah yang jauh dari layak, ditambah rasa jenuh karena merasa aspirasi mereka tidak pernah benar-benar didengar, menjadi latar yang melahirkan ungkapan tersebut.
Alih-alih menunggu perubahan melalui jalur yang “seharusnya”, tidak sedikit yang memilih jalan lain, yaitu pergi. Baik melalui beasiswa, bekerja di luar negeri, maupun sekadar menyusun rencana jangka panjang untuk menetap di negara lain. Konten yang mengangkat topik ini pun beragam, mulai dari pembahasan berbasis data hingga curahan hati yang dibungkus humor getir. Namun, benang merahnya tetap sama: kelelahan menghadapi keadaan yang terasa tidak masuk akal.
Ketika Dunia Tidak Memberi Jawaban
Albert Camus, filsuf kelahiran Aljazair yang berkarya dalam tradisi Prancis, dikenal melalui karya-karya seperti Mitos Sisifus dan Sang Pemberontak. Salah satu gagasan sentralnya adalah absurdisme.
Menurut Camus, hidup terasa absurd bukan karena dunia ini kejam, melainkan karena adanya jarak antara keinginan manusia untuk menemukan makna dan keteraturan dengan kenyataan bahwa dunia sama sekali tidak berkepentingan memenuhi keinginan tersebut. Manusia mencari alasan, mencari keadilan, dan ingin memahami mengapa hidup terasa sedemikian berat. Namun, dunia tidak memberikan jawaban apa pun.
Jika ditarik ke dalam konteks “kabur aja dulu”, kerangka pemikiran ini terasa cukup relevan. Banyak anak muda telah berusaha keras menyelesaikan pendidikan dan bekerja sungguh-sungguh dengan harapan bahwa usaha mereka akan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Namun kenyataannya, tidak sedikit yang menemui jalan buntu. Ijazah tidak menjamin pekerjaan, kerja keras tidak menjamin penghasilan yang layak, dan kepatuhan terhadap aturan tidak selalu menghadirkan ketenangan hidup.
Jarak antara harapan dan kenyataan itulah yang oleh Camus disebut sebagai kondisi absurd. Bukan berarti negeri ini sepenuhnya tanpa harapan, tetapi perasaan “sudah berusaha sekeras ini, mengapa hasilnya tetap demikian?” merupakan pengalaman absurd yang sangat personal dan tampaknya dirasakan oleh banyak orang dari generasi yang sama.
Kabur sebagai Pelarian atau Pemberontakan?
Bagian paling menarik dari pemikiran Camus terletak pada sikap yang ia tawarkan setelah manusia menyadari absurditas tersebut. Camus menolak dua jalan yang menurutnya hanya merupakan bentuk pelarian: bunuh diri, yaitu mengakhiri hidup karena menganggap dunia tidak bermakna, dan lompatan iman buta, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya pada dogma yang menjanjikan makna instan tanpa lagi mempertanyakan apa pun.
Sebagai gantinya, Camus mengajukan jalan ketiga yang disebut pemberontakan (la révolte): tetap menjalani hidup dan terus berjuang dengan kesadaran penuh bahwa dunia mungkin tidak akan pernah memberikan jawaban yang pasti, tetapi tetap memilih hidup secara sadar dan bermakna.
Pertanyaannya, apakah “kabur aja dulu” lebih dekat pada pelarian atau justru pada pemberontakan yang dimaksud Camus?
Jawabannya bisa jadi keduanya, tergantung bagaimana tindakan tersebut dimaknai. Jika “kabur” dipahami sebagai bentuk penyerahan total dan berhenti peduli terhadap apa yang terjadi di tanah air, maka hal itu lebih dekat pada pelarian yang justru dikritik Camus.
Sebaliknya, jika “kabur” dimaknai sebagai strategi bertahan hidup sekaligus mencari ruang yang lebih adil untuk berkembang, sambil tetap membawa kepedulian terhadap tempat asal, tindakan tersebut justru dapat dibaca sebagai bentuk pemberontakan khas Camus. Sebuah sikap yang terus bergerak dan menolak tunduk begitu saja pada keadaan yang menekan.
Menariknya, respons sebagian diaspora Indonesia terhadap tren ini memperlihatkan sisi pemberontakan tersebut. Banyak yang telah lebih dahulu merantau ikut bersuara, bukan untuk menjauh dari persoalan tanah air, melainkan tetap menaruh perhatian meski dari kejauhan.
Hal ini mengingatkan pada tokoh Sisifus dalam esai Camus, yang terus mendorong batu ke puncak bukit meskipun mengetahui batu itu akan kembali menggelinding turun. Camus menutup esainya dengan kalimat yang sangat dikenal, bahwa manusia harus membayangkan Sisifus berbahagia, bukan karena tugasnya berhasil diselesaikan, melainkan karena ia tetap memilih untuk terus mendorong batu itu dengan kesadaran penuh.
Bukan Sekadar Soal Nasionalisme
Fenomena ini kerap dibaca secara sempit sebagai bukti berkurangnya rasa cinta tanah air. Padahal, jika dilihat melalui kacamata Camus, persoalannya lebih berkaitan dengan kejujuran dalam menghadapi keadaan yang absurd, lalu memilih respons yang paling masuk akal bagi diri masing-masing.
Camus sendiri tidak pernah menyatakan bahwa absurditas harus diselesaikan dengan cara yang seragam bagi setiap orang. Setiap individu memiliki caranya sendiri untuk memberontak melawan absurditas tersebut, baik dengan tetap tinggal dan berjuang memperbaiki keadaan maupun dengan pergi terlebih dahulu mencari ruang hidup yang lebih adil, sambil tetap membawa harapan untuk kembali suatu hari nanti.
Yang jelas, “kabur aja dulu” bukan sekadar tren yang dapat dipandang sebelah mata. Fenomena ini merupakan cerminan dari satu generasi yang tengah lelah, sedang mempertanyakan banyak hal, dan berusaha mencari makna di tengah dunia yang terasa diam serta kurang berpihak.
Dan bila mengikuti pemikiran Camus, tindakan mempertanyakan keadaan itu sendiri sesungguhnya sudah merupakan bentuk keberanian untuk tetap menjalani hidup dengan kesadaran penuh, bukan sekadar mengikuti arus tanpa berpikir.








