Ketika Realitas Buatan Lebih Indah dari Dunia Nyata: Refleksi Film The Truman Show dalam Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Samuel Destian Putra Pardede
Pelajar/Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Judul Film: The Truman Show
Sutradara: Peter Weir
Penulis Naskah: Andrew Niccol
Studio: Scott Rudin Productions
Distributor: Paramount Pictures
Tahun Rilis: 1998
Durasi: 103 menit
Saya pernah terlintas pikiran aneh ketika sedang bersantai bermain gadget: “Kok aneh ya, kenapa HP ini selalu menempel di tangan?”
Rutinitas dimulai sejak bangun pagi. Hal pertama yang dicari adalah gadget. Sebagian besar hari dihabiskan dengan menatap layar, sibuk melihat apa yang terjadi di dunia melalui media sosial. Rasanya nyaman, tetapi setelah dipikir-pikir, terasa aneh juga.
Berkaca dari apa yang kerap terjadi sekarang, orang-orang rela meninggalkan berbagai kegiatan produktif hanya untuk mencari kesenangan yang dangkal. Mereka terlalu nyaman untuk tinggal di dalam dunia yang tersedia melalui sebuah gadget. Kebebasan yang mereka miliki perlahan dirampas oleh kebahagiaan semu yang membuat mereka menjadi “tahanan” di dalamnya. Tanpa kita sadari, layar HP yang kecil itu seperti berubah menjadi “penjara halus” yang mengatur apa yang kita lihat dan rasakan setiap hari.
Sensasi terjebak dalam kehidupan buatan inilah yang dialami oleh Truman Burbank dalam film The Truman Show (1998).
Sejak lahir hingga usianya menembus 30 tahun, Truman tinggal di sebuah kota kecil yang indah, aman, dan tampak begitu sempurna bernama Seahaven. Namun, tanpa pernah ia sadari, seluruh kota tersebut sebenarnya merupakan studio televisi raksasa yang berada di dalam sebuah kubah raksasa.
Orang tuanya, istrinya, hingga sahabat karibnya sejak kecil adalah aktor bayaran. Sementara itu, jalan hidupnya terus disutradarai oleh seorang produser visioner bernama Christof demi sebuah tayangan reality show yang disiarkan 24 jam tanpa henti, mulai dari Truman bangun pada pagi hari hingga menutup mata pada malam hari.
Semua tatanan hidup Truman berjalan nyaman sampai akhirnya berbagai hal mulai terungkap satu per satu. Lampu studio jatuh dari langit yang cerah, suara radio mobilnya tiba-tiba menggambarkan pergerakannya, serta orang-orang di sekitarnya bergerak dengan cara yang aneh. Kejadian-kejadian janggal tersebut memunculkan kecurigaan dalam diri Truman.
Ia mulai sadar bahwa rasa aman dan kenyamanan yang ia nikmati selama puluhan tahun ternyata telah dikontrol dan dibungkus dengan sangat rapi.
Jika dibedah secara mendalam, kondisi kota Seahaven tempat Truman tinggal merupakan contoh nyata dari apa yang disebut filsuf Jean Baudrillard sebagai simulacra dan hiperrealitas. Di Seahaven, batas antara sesuatu yang asli dan buatan seolah telah sepenuhnya melebur. Semua yang ada, seperti keramahan tetangga, perhatian istri, hingga kenyamanan yang ia rasakan, hanyalah tanda-tanda buatan yang palsu.
Tragisnya, simulasi buatan tersebut justru terasa jauh lebih ideal dan “nyata” bagi jutaan penonton di luar studio dibandingkan kehidupan asli mereka sendiri yang mungkin terasa membosankan.
Namun, di tengah dunia palsu tersebut, naluri kemanusiaan Truman menolak untuk terus diam. Di sinilah teori eksistensialisme, khususnya pemikiran filsuf Jean-Paul Sartre, mulai berjalan.
Sartre memiliki prinsip terkenal, existence precedes essence (eksistensi mendahului esensi), yang berarti manusia lahir ke dunia tanpa membawa “cetak biru” atau takdir yang kaku. Manusia kemudian bebas mendefinisikan siapa dirinya melalui pilihan dan tindakan nyata.
Christof boleh saja mendesain “esensi” Truman sebagai bintang televisi, tetapi ia tidak pernah benar-benar mampu mengatur kehendak bebas yang ada dalam pikiran Truman.
Kebebasan yang selama ini Truman Burbank rasakan ternyata memang telah diatur oleh Christof. Seluruh alur hidup yang telah ia lalui, bahkan kehidupannya di masa depan, berada di bawah kendali Christof. Kondisi tersebut membuat Truman tidak pernah benar-benar merasakan kebebasan yang sebenarnya.
Dari situlah Truman mulai mencoba mencari kebenaran di balik keindahan dunia yang telah dirancang untuknya sekaligus berusaha meraih kebebasan.
Kebebasan itu akhirnya tergapai ketika Truman nekat berlayar menembus badai buatan demi menemukan ujung dunianya. Momen ketika haluan kapalnya membentur dinding studio yang dilukis menyerupai langit dan awan menjadi tanda terungkapnya dunia simulasi tempat Truman berada.
Di situ, Truman berhadapan dengan apa yang disebut filsuf Albert Camus sebagai keabsurdan (the absurd). Pintu keluar berwarna hitam memperlihatkan dunia luar yang gelap dan penuh ketidakpastian.
Namun, Truman tidak ingin terus membohongi dirinya sendiri. Ia memilih memberi hormat, mengucapkan, “In case I don’t see ya, good afternoon, good evening, and good night,” lalu memasuki kegelapan menuju dunia nyata.
Kisah Truman sebenarnya bukan sekadar film hiburan abad ke-20. Jika kita berani jujur menatap layar ponsel dan layar kaca kita hari ini, fenomena yang dialami Truman sebenarnya sedang terjadi dalam kehidupan kita.
Kita hidup di era ketika dunia simulacra dibangun bukan lagi melalui studio televisi raksasa, melainkan melalui feed media sosial, tata kelola algoritma, dan tren digital yang tiada habisnya. Banyak dari kita mulai hanyut dalam dunia simulasi buatan tersebut tanpa menyadarinya.
Kita lebih sibuk membangun citra, mengejar likes, dan mengonsumsi kebahagiaan orang lain yang sebenarnya belum tentu sepenuhnya nyata. Dunia digital memberikan kita rasa aman dan kontrol yang semu. Di sana, kita bisa menjadi siapa saja, memilih apa yang ingin kita lihat, dan menghindari ketidaknyamanan yang biasanya datang bersama kehidupan nyata.
Kenyamanan buatan ini lama-kelamaan membuat kita takut terhadap realitas yang sebenarnya. Kehidupan nyata kerap kali tidak ramah. Ia penuh dengan ketidakpastian, kegagalan, rasa sakit, serta konflik pertemanan yang rumit.
Karena takut menghadapi kekacauan tersebut, banyak orang akhirnya memilih menarik diri dan berdiam di dalam zona nyaman simulacra. Zona nyaman ini berfungsi seperti obat penenang yang memberikan ketenangan batin sekaligus membuat kita lupa bagaimana rasanya berinteraksi secara jujur dengan kehidupan.
Padahal, sama seperti Truman di ujung lautan buatan itu, kita selalu memiliki pilihan.
Kita dapat tetap bertahan di dalam dunia simulasi yang rapi tetapi palsu demi rasa aman, atau memberanikan diri melangkah menuju kehidupan yang tidak pasti tetapi jujur.
Pilihan untuk keluar memang menakutkan dan membutuhkan keberanian besar. Namun, hanya dengan melangkah keluar dari zona nyaman buatan itulah kita dapat benar-benar hidup sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar menjadi penonton pasif di panggung pertunjukan yang dirangkai oleh orang lain.









