Alaku

Ketika Tradisi Mengalahkan Logika: Membaca Patriarki melalui Kacamata Filsafat

Ketika Tradisi Mengalahkan Logika: Membaca Patriarki melalui Kacamata Filsafat

Oleh Adding Aulia Salsabila
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia

Setiap kali perdebatan mengenai peran laki-laki dan perempuan kembali mencuat di ruang publik, pola argumentasinya hampir selalu sama. Ada yang mengatakan perempuan tidak selayaknya menjadi pemimpin karena laki-laki adalah kepala keluarga. Ada pula yang meyakini bahwa perempuan yang terlalu mengejar karier pasti akan mengabaikan rumah tangga. Sebagian lainnya menutup perdebatan dengan kalimat sederhana, tetapi terdengar meyakinkan: “Dari dulu memang seperti itu.”

Kalimat-kalimat tersebut terasa akrab karena telah lama menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Namun, justru karena terlalu sering diulang, kita jarang berhenti untuk mengajukan satu pertanyaan mendasar: apakah alasan-alasan tersebut benar secara logis, atau hanya terdengar benar karena telah diwariskan dari generasi ke generasi?

Di sinilah filsafat menawarkan cara pandang yang berbeda. Filsafat tidak hanya bertanya apa yang kita yakini, tetapi juga mengapa kita meyakininya. Sebuah keyakinan tidak menjadi benar hanya karena dipercaya oleh banyak orang, telah bertahan selama puluhan tahun, atau diwariskan oleh generasi sebelumnya. Sejak masa Aristoteles, logika dipandang sebagai alat untuk menguji kualitas penalaran manusia. Kebenaran tidak ditentukan oleh usia suatu tradisi, melainkan oleh kekuatan alasan yang menopangnya.

Dalam filsafat, terdapat istilah logical fallacy, yakni kesalahan bernalar yang membuat sebuah argumen tampak masuk akal, padahal sebenarnya cacat secara logika. Menariknya, berbagai argumen yang digunakan untuk mempertahankan budaya patriarki justru sering kali memperlihatkan pola-pola sesat pikir tersebut. Dengan kata lain, patriarki mungkin tidak semata bertahan karena tradisinya kuat, tetapi karena cara kita membenarkan tradisi itu jarang diuji secara kritis.

Salah satu bentuk sesat pikir yang paling dominan adalah appeal to tradition, yaitu menganggap sesuatu benar hanya karena telah dilakukan sejak lama. Ketika seseorang berkata, “Perempuan memang dari dulu bertugas mengurus rumah,” sesungguhnya ia tidak sedang memberikan alasan, melainkan hanya menunjukkan bahwa praktik tersebut telah berlangsung lama. Padahal, sejarah membuktikan bahwa banyak tradisi akhirnya ditinggalkan karena tidak lagi sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan rasa keadilan. Dahulu, berbagai bentuk diskriminasi berdasarkan ras, kelas sosial, maupun status hukum juga dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Usia sebuah tradisi ternyata tidak pernah menjadi jaminan bahwa tradisi tersebut benar.

Sesat pikir berikutnya adalah hasty generalization. Kita masih sering mendengar anggapan bahwa perempuan kurang layak memimpin karena dianggap lebih emosional. Klaim tersebut biasanya lahir dari pengalaman yang terbatas atau contoh-contoh tertentu, kemudian digeneralisasikan kepada seluruh perempuan. Anehnya, ketika seorang laki-laki gagal memimpin, kegagalan itu lebih sering dipandang sebagai kegagalan individu, bukan sebagai bukti bahwa seluruh laki-laki tidak pantas menjadi pemimpin. Standar penalaran yang berbeda inilah yang menunjukkan bahwa kesimpulan tersebut lebih banyak digerakkan oleh stereotip daripada bukti yang logis.

Kemudian, sesat pikir yang tidak kalah sering dikaitkan dengan budaya patriarki adalah false dilemma. Perempuan seolah dipaksa memilih antara keluarga atau karier, seakan-akan kedua pilihan tersebut tidak mungkin berjalan berdampingan. Cara berpikir seperti ini terlalu menyederhanakan realitas yang pada dasarnya jauh lebih kompleks. Dalam kehidupan nyata, banyak keluarga membangun pembagian peran yang fleksibel, saling mendukung, dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Namun, ketika pilihan dipersempit menjadi dua kutub yang saling meniadakan, ruang untuk mencari solusi justru tertutup.

Ironisnya, ketika argumen-argumen tersebut mulai dipertanyakan, yang muncul sering kali bukan dialog, melainkan serangan terhadap orang yang menyampaikannya. Perempuan yang mengkritik norma patriarki tidak jarang dicap “tidak tahu kodrat”, “terlalu feminis”, atau “membenci laki-laki”. Padahal, melabeli seseorang tidak otomatis membantah isi argumennya. Dalam logika, tindakan semacam ini dikenal sebagai ad hominem, yaitu mengalihkan perhatian dari substansi persoalan kepada pribadi pembicara.

Melihat berbagai contoh tersebut, persoalan patriarki sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai relasi antara laki-laki dan perempuan. Ia juga berbicara mengenai kualitas nalar kita sebagai masyarakat. Sebuah sistem sosial akan terus bertahan apabila alasan-alasan yang menopangnya diterima tanpa diuji. Sebaliknya, perubahan tidak selalu dimulai dengan mengganti tradisi, tetapi dengan memperbaiki cara berpikir yang selama ini membuat tradisi tersebut tampak tidak perlu dipertanyakan.

Gagasan serupa pernah ditekankan oleh John Stuart Mill. Menurutnya, sebuah keyakinan hanya memiliki nilai apabila mampu bertahan setelah diuji melalui kritik dan perdebatan yang terbuka. Keyakinan yang diterima begitu saja tanpa proses pengujian mungkin tetap diwariskan, tetapi perlahan kehilangan dasar rasionalnya. Dalam konteks ini, mempertanyakan argumen yang menopang budaya patriarki bukan berarti menolak seluruh tradisi, melainkan menjalankan tanggung jawab intelektual untuk memastikan bahwa tradisi yang dipertahankan memang layak dipertahankan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat modern bukanlah memilih antara tradisi atau perubahan. Tantangan yang sesungguhnya adalah membangun keberanian untuk membedakan mana keyakinan yang lahir dari penalaran yang sehat dan mana yang sekadar bertahan karena terus diulang. Sebab, sebuah masyarakat tidak diukur dari seberapa lama ia mempertahankan tradisinya, melainkan dari seberapa berani ia menguji tradisi tersebut dengan akal budi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan