Melemahnya Rupiah: Tekanan Global atau Alarm dari Dalam Negeri?
Sumber (Pinterst) : Inflasi Pribadi. Apa itu dan bagaimana pengaruhnya terhadap anggaran keluarga

Melemahnya Rupiah: Tekanan Global atau Alarm dari Dalam Negeri?

Diposting pada

Oleh Yando Pardiansyah
Mahasiswa Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu

Rupiah lagi-lagi jadi bahan omongan. Nilainya terus tergerus, terseret arus dolar yang makin perkasa, dan ini bukan kabar ringan yang bisa diabaikan begitu saja. Tapi tunggu dulu, sebelum panik berlebihan, mari kita bedah bareng: ini murni ulah situasi global, atau ada “luka dalam” yang selama ini disembunyikan?

Kemungkinan besar, keduanya.

Dunia sekarang memang sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antara Amerika dan Iran bikin pasar finansial global gelisah setengah mati, investor kalang kabut cari tempat paling aman buat naruh duitnya. Dan pilihan paling klasik, paling nyaman, tetap saja dolar AS. Logis sih, tapi akibatnya mata uang negara berkembang langsung kena getah. Rupiah termasuk korbannya.

Belum lagi soal suku bunga The Fed yang masih betah di level tinggi. Obligasi pemerintah Amerika jadi primadona, menawarkan cuan dengan risiko yang relatif kalem. Modal pun terbang meninggalkan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ini bukan fenomena lokal, ini badai yang melanda hampir semua orang di kawasan.

Tapi, menyalahkan global sepenuhnya itu naif.

Investor bukan cuma memantau headline geopolitik. Mereka juga mengintip dapur rumah tangga fiskal setiap negara. Gimana belanja pemerintah, kemana arah kebijakan ekonominya, apakah keputusan-keputusan yang diambil konsisten atau sekedar reaksioner. Indonesia, dalam konteks ini, tidak lepas dari sorotan tajam.

Subsidi energi yang melonjak hingga sekitar Rp118 triliun misalnya, ini pisau bermata dua yang sangat tajam. Di satu sisi, subsidi itu penting banget. Tanpanya, harga energi langsung menjulang dan masyarakat yang paling bawah yang paling merasakan sengatannya. Pemerintah memang harus hadir di sini. Tapi di sisi lainnya, angka segitu bukan main-main bagi kesehatan APBN. Pasar mulai bisik-bisik, sampai kapan ini bisa ditanggung, apakah defisit masih dalam batas wajar, apakah ada exit strategy yang masuk akal.

Di sinilah sebetulnya titik kritis yang sering luput dari perhatian publik: kepercayaan.

Kurs mata uang bukan sekadar cerminan data ekonomi yang dingin dan kaku. Ia adalah barometer kepercayaan. Ketika investor yakin bahwa pemerintah punya kompas kebijakan yang jelas dan bank sentral bergerak dengan integritas, tekanan terhadap rupiah bisa lebih teredam. Tapi begitu muncul sinyal ketidakpastian atau inkonsistensi, sentimen pasar bisa berubah drastis lebih cepat dari yang kita duga.

Karena itu, solusinya bukan cuma intervensi cadangan devisa atau operasi pasar sesaat. Yang jauh lebih fundamental adalah membangun kredibilitas jangka panjang. Kebijakan yang transparan, konsisten, dan berorientasi produktivitas nyata, bukan sekadar pencitraan statistik.

Masyarakat juga perlu kepala lebih dingin dalam membaca situasi ini. Rupiah melemah bukan otomatis berarti Indonesia menuju jurang krisis. Banyak mata uang Asia lain juga babak belur di periode yang sama akibat dominasi dolar. Ini konteks yang penting supaya kita tidak terjebak histeria yang tidak produktif.

Yang harus diwaspadai bukan sekadar angka di papan kurs. Lebih dari itu, yang perlu dijaga adalah kapasitas negara ini bertahan di tengah guncangan global yang semakin tidak bisa diprediksi. Pelemahan rupiah sejatinya adalah pengingat keras bahwa Indonesia masih sangat tersambung dengan dinamika dunia, sekaligus masih punya banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas diselesaikan.

Fondasi domestik yang kuat dan kepercayaan pasar adalah tameng sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *