Alaku

Quarter-Life Crisis: Terlambat Menurut Siapa?

Quarter-Life Crisis: Terlambat Menurut Siapa? (Foto Ilustrasi by AI-generated (ChatGPT))

Oleh: Shifa Fadilah
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Di Usia 20-an, Mengapa Kita Selalu Merasa Tertinggal?

Setiap pagi, media sosial dipenuhi unggahan wisuda, promosi jabatan, rumah pertama, hingga foto pernikahan. Di tengah derasnya pencapaian yang terus melintas di layar, banyak anak muda mulai bertanya dalam diam, “Apakah aku sudah tertinggal?”

Usia 20-an yang sering dipandang sebagai masa terbaik untuk membangun masa depan justru menjadi periode yang dipenuhi ketidakpastian. Di tengah tuntutan untuk segera sukses, memiliki karier yang mapan, dan mencapai berbagai target hidup, banyak orang mulai meragukan pilihan yang telah mereka ambil serta mempertanyakan arah hidupnya sendiri.

Saya pun pernah berada di titik itu. Ketika teman-teman mulai aktif berorganisasi, memenangkan perlombaan, atau memperoleh beasiswa, tanpa sadar saya mulai membandingkan perjalanan mereka dengan perjalanan yang sedang saya tempuh. Pertanyaan seperti, “Apakah aku sudah cukup berkembang?” atau bahkan, “Apakah aku sedang tertinggal?” perlahan muncul dan mengusik pikiran.

Belakangan saya menyadari bahwa kegelisahan tersebut bukan semata pengalaman pribadi. Banyak anak muda pada fase dewasa awal menghadapi pertanyaan serupa ketika berusaha menemukan arah hidupnya. Yang membuat saya gelisah ternyata bukan karena saya tidak memiliki pencapaian, melainkan karena tanpa sadar saya menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur keberhasilan hidup saya sendiri.

Perasaan tersebut ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa quarter-life crisis merupakan pengalaman yang umum dialami oleh dewasa muda di berbagai negara.

Quarter-life crisis kerap dianggap sebagai istilah populer yang lahir dari media sosial. Namun, penelitian lintas negara terhadap 2.247 responden berusia 18–29 tahun di delapan negara, termasuk Indonesia, yang dipublikasikan oleh British Psychological Society menunjukkan bahwa prevalensi quarter-life crisis berkisar antara 40,4% hingga 77,1%. Temuan ini memperlihatkan bahwa quarter-life crisis bukan sekadar tren di dunia maya, melainkan pengalaman perkembangan yang nyata dan dialami oleh banyak dewasa muda di berbagai budaya.

Di tengah derasnya arus media sosial dan meningkatnya tuntutan untuk segera berhasil di usia muda, tekanan untuk “lebih cepat berhasil” menjadi pengalaman yang semakin akrab bagi banyak anak muda Indonesia. Dalam situasi seperti ini, perasaan tertinggal tidak lagi muncul semata karena kegagalan pribadi, tetapi juga karena standar keberhasilan yang terus dipertontonkan di ruang publik.

Menurut Erik Erikson, pencarian identitas yang dimulai sejak remaja dapat berlanjut hingga masa dewasa awal ketika individu menghadapi berbagai tuntutan hidup. Pada fase ini, sebagian orang mengalami quarter-life crisis, yang ditandai dengan keraguan terhadap pilihan hidup, rasa tertinggal, dan kebingungan menentukan arah masa depan. Meski umum terjadi sebagai bagian dari proses perkembangan, kondisi ini tetap perlu dipahami agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.

Salah satu faktor yang memperkuat kecemasan pada fase quarter-life crisis adalah tuntutan dan ekspektasi dari keluarga, masyarakat, maupun media sosial. Di era modern, makna kesuksesan kerap direduksi menjadi pencapaian material pada usia tertentu, sehingga banyak orang merasa harus mengikuti standar yang dibentuk oleh lingkungan.

Akibatnya, ketika merasa tertinggal, seseorang tidak hanya meragukan pilihan hidupnya, tetapi juga kehilangan kepercayaan diri dan mempertanyakan arah serta makna kehidupannya, padahal kegelisahan tersebut merupakan bagian dari proses memahami diri dan menentukan jalan hidup. Media sosial kemudian memperkuat standar tersebut dengan terus menampilkan potongan-potongan keberhasilan orang lain, seolah setiap orang memiliki garis waktu kehidupan yang sama.

Persoalan terbesar dalam quarter-life crisis bukanlah karena anak muda kehilangan arah, melainkan karena mereka terus-menerus merasa harus mengikuti arah yang dianggap benar oleh lingkungan. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa ada usia ideal untuk lulus, bekerja, menikah, membeli rumah, hingga mencapai kestabilan finansial. Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai urutan tersebut, kita merasa gagal. Padahal, yang gagal mungkin bukan kehidupan kita, melainkan cara kita mendefinisikan keberhasilan.

Barangkali, persoalannya bukan karena kita benar-benar tertinggal, melainkan karena selama ini kita menerima begitu saja anggapan bahwa setiap orang harus mencapai hal yang sama pada usia yang sama. Lalu, benarkah keberhasilan hanya dapat diukur dari seberapa cepat kita mencapai suatu pencapaian? Ataukah makna hidup sebenarnya tidak pernah ditentukan oleh garis waktu yang dibuat oleh orang lain?

Apakah Makna Hidup Harus Ditemukan?

Namun, kegelisahan tersebut ternyata tidak hanya dapat dijelaskan melalui psikologi. Di baliknya terdapat pertanyaan yang sejak lama menjadi perhatian filsafat: mengapa manusia begitu terdorong untuk mencari makna hidupnya?

Berbeda dengan makhluk hidup lain yang sebagian besar menjalani kehidupan berdasarkan naluri, manusia memiliki kesadaran untuk merefleksikan dirinya, mempertanyakan tujuan hidup, serta memberikan makna terhadap pengalaman yang dijalaninya. Karena itu, ketika seseorang merasa kehilangan arah atau belum menemukan makna hidup, kondisi tersebut tidak selalu menandakan bahwa hidupnya benar-benar tidak bermakna, melainkan dapat menjadi bagian dari proses memahami dan membentuk dirinya sendiri.

Dalam perspektif eksistensialisme, ketiadaan jawaban yang pasti mengenai makna hidup bukanlah akhir, melainkan ruang bagi manusia untuk menciptakan maknanya sendiri. Makna hidup tidak selalu menunggu untuk ditemukan, tetapi dibentuk melalui pilihan, pengalaman, dan cara seseorang menjalani kehidupannya.

Sartre: Makna Hidup Diciptakan, Bukan Diberikan

Pertanyaan mengenai makna hidup menjadi salah satu perhatian utama dalam filsafat eksistensialisme, khususnya pemikiran Jean-Paul Sartre. Melalui konsep existence precedes essence (eksistensi mendahului esensi), Sartre menolak anggapan bahwa manusia dilahirkan dengan tujuan atau identitas yang telah ditentukan. Berbeda dengan benda yang dibuat untuk fungsi tertentu, manusia terlebih dahulu hadir, kemudian membentuk siapa dirinya melalui pilihan, tindakan, dan keputusan yang diambil sepanjang hidupnya.

Bagi Sartre, kebebasan bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan, melainkan juga sumber kecemasan. Manusia memang tidak dapat memilih tempat lahir, keluarga, atau kondisi sosialnya, tetapi tetap bertanggung jawab menentukan sikap terhadap keadaan tersebut. Karena itu, manusia tidak dapat sepenuhnya menyalahkan lingkungan atau harapan orang lain atas kehidupan yang dijalaninya. Kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab, dan justru tanggung jawab itulah yang sering kali membuat manusia merasa gelisah.

Dalam konteks quarter-life crisis, kegelisahan tersebut bukan semata-mata menunjukkan bahwa seseorang kehilangan arah, melainkan bahwa ia sedang berhadapan dengan kebebasan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Ketakutan memilih jalan yang salah, mengecewakan orang lain, atau menyesali keputusan di masa depan merupakan konsekuensi dari kesadaran bahwa setiap pilihan membawa risiko yang harus ditanggung. Tidak ada pilihan yang benar-benar bebas dari risiko. Justru karena masa depan tidak pernah pasti, manusia dituntut bertanggung jawab atas setiap keputusan yang ia ambil.

Pada akhirnya, quarter-life crisis tidak harus dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai ruang untuk bertumbuh. Sartre mengingatkan bahwa makna hidup tidak pernah diberikan sejak awal dan tidak akan ditemukan begitu saja. Makna hidup lahir dari keberanian manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihannya, dan terus melangkah meskipun masa depan tidak pernah menawarkan kepastian.

Di tengah budaya yang terus mengukur keberhasilan berdasarkan usia dan pencapaian, kita sering kali lebih sibuk mengejar definisi sukses yang dibuat orang lain daripada memahami kehidupan yang benar-benar ingin kita jalani. Padahal, makna hidup tidak pernah diberikan oleh lingkungan, melainkan dibangun melalui pilihan yang berani kita ambil.

Barangkali, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah, “Mengapa aku terlambat?”, melainkan, “Terlambat menurut siapa?”


DAFTAR PUSTAKA

British Psychological Society. (2025, July 3). Quarter-life crisis common phenomenon across many countries, reveals new global research. https://www.bps.org.uk/news/quarter-life-crisis-common-phenomenon-across-many-countries-reveals-new-global-research

Cherry, K. (2025, February 6). Erik Erikson’s stages of psychosocial development. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/erik-erikson.html

Fieser, J., & Dowden, B. (Eds.). (n.d.). Jean-Paul Sartre: Existentialism. Internet Encyclopedia of Philosophy. https://iep.utm.edu/sartre-ex/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan