Catatan MTQ Seluma: Urgensi Kemurnian Tauhid dalam Penyelenggaraan MTQ Provinsi Bengkulu

Oleh: Herwan Saleh
Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah Provinsi Bengkulu
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Bengkulu di Seluma tahun 2026 merupakan agenda mulia yang patut kita apresiasi. Namun, demi menjaga keberkahan acara, pemerintah dan beberapa pihak terkait lainnya perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis penyelenggaraannya.
Sangat disayangkan, terdapat dugaan penggunaan jasa pawang hujan di arena utama Masjid Raya Baitul Falihin. Sebagai kegiatan yang mengagungkan kalam Allah, menyandingkan ritual keagamaan dengan praktik yang bersinggungan dengan syirik adalah hal yang sangat kontradiktif.
Landasan Syariat dan Akidah
Dalam pandangan Islam, memohon kendali cuaca kepada selain Allah melalui perantara yang tidak syar’i dapat mencederai kemurnian akidah. Allah SWT berfirman:
“Hanya milik Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…” (QS. Al-An’am: 59)
Selain itu, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tegas terkait praktik-praktik yang mengarah pada perdukunan atau ramalan:
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al-Qur’an).” (HR. Ahmad)
Kita tentu tidak ingin kegiatan yang bertujuan mensyiarkan Al-Qur’an justru kehilangan keberkahannya karena adanya praktik yang menjauhkan kita dari tauhid.
Solusi Berbasis Ilmu Pengetahuan
Sebagai insan yang didorong untuk terus berinovasi, kita memiliki solusi modern yang sejalan dengan sunnatullah dan tidak merusak iman. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah pilihan yang jauh lebih rasional dan murah.
TMC dilakukan dengan cara menyemprotkan serbuk garam ke awan menggunakan drone untuk memicu hujan turun lebih awal di lokasi yang berbeda. Ini adalah ikhtiar lahiriah berbasis sains yang sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan secara akidah.
Harapan dan Langkah Kedepan
Saya mendorong pihak penyelenggara untuk lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Perlu ada sanksi atau teguran administratif bagi pelaksana yang mengabaikan aspek religiusitas ini agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Mari kita jaga kemurnian ibadah kita dengan tetap mengedepankan akal sehat dan iman yang lurus.(*)








