Alaku

Jangan Remehkan Patrick Star, Ada Pelajaran Stoikisme di Balik Kekonyolannya

Jangan Remehkan Patrick Star, Ada Pelajaran Stoikisme di Balik Kekonyolannya

Oleh Muhamad Faqih Al-Gifari
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Jurusan Psikologi

Pertama kali saya mengenal Stoikisme adalah ketika membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Dari buku itu saya belajar bahwa Stoikisme bukan sekadar aliran filsafat yang hidup pada zaman dahulu. Stoikisme dapat hadir dalam cara kita membedakan apa yang bisa dikendalikan, memilih respons terhadap keadaan, lalu menerima hal-hal yang memang berada di luar kuasa kita.

Anehnya, semakin saya mencoba merenungkan Stoikisme lebih dalam, saya justru teringat pada tokoh Patrick Star dalam kartun SpongeBob SquarePants—seekor bintang laut merah muda yang polos dan tinggal di bawah batu di Bikini Bottom.

Tentu bukan karena Patrick adalah seorang filsuf. Bahkan, mungkin ia tidak pernah mengenal Seneca, Epictetus, atau Marcus Aurelius, tokoh-tokoh besar dalam ajaran Stoikisme. Namun, cara Patrick menyikapi kehidupan terkadang mengingatkan saya pada beberapa gagasan dasar filsafat tersebut.

Lebih dari Sekadar Konyol

Dalam SpongeBob SquarePants, Patrick digambarkan sebagai bintang laut berwarna merah muda yang polos, santai, dan sering bertingkah konyol. Tinggal di bawah sebuah batu, menghabiskan waktu berburu ubur-ubur, atau sekadar bermalas-malasan sudah menjadi rutinitas hariannya.

Karena penggambaran tokoh seperti itulah, Patrick sering dianggap bodoh dan hanya menjadi sumber kelucuan. Ia tidak memiliki ambisi besar, tidak mengejar prestasi, dan hampir tidak pernah terlihat memikirkan masa depan.

Namun, justru di balik kekonyolan dan kesederhanaannya, ada sesuatu yang menarik untuk diamati. Dalam banyak episode, Patrick menghadapi kegagalan, diejek, dipermalukan, bahkan dikhianati. Anehnya, pengalaman-pengalaman tersebut jarang membuatnya larut dalam kesedihan atau kemarahan. Patrick tetap menjalani hidup seperti biasa, seolah-olah pengalaman buruk itu tidak mengambil terlalu banyak ruang dalam pikirannya.

Patrick yang Menerima Kenyataan

Stoikisme sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa daya. Padahal, penerimaan dalam Stoikisme bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyadari kenyataan apa adanya dan melakukan apa yang masih dapat dilakukan. Kesadaran inilah yang menjadi dasar konsep amor fati, yaitu menerima, bahkan mencintai, kenyataan hidup sebagaimana adanya.

Salah satu contoh perilaku Patrick yang mencerminkan konsep ini terlihat ketika ia dan SpongeBob menemukan mutiara hingga mendadak menjadi kaya. Pada awalnya situasi tersebut tampak menyenangkan. Namun, kekayaan itu justru mengubah sikap SpongeBob dan merusak hubungan persahabatan mereka. SpongeBob merendahkan Patrick dan lebih sibuk bersama teman-teman baru yang mendekatinya karena kekayaan.

Dalam situasi seperti itu, Patrick sangat mungkin merasa marah, sedih, atau kecewa. Namun, ketika keadaan berubah dan SpongeBob kembali miskin, Patrick tetap menerima sahabatnya apa adanya. Ia tidak menuntut bagian hartanya dikembalikan ataupun menyimpan dendam. Mereka kembali bersahabat seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.

Pada momen ini, Patrick menerima kenyataan tanpa terjebak dalam penyesalan atau kepahitan. Ia tidak menggantungkan persahabatan pada kondisi untung ataupun rugi. Ketika keberuntungan datang, ia tidak larut dalam kesombongan. Ketika keberuntungan pergi, ia juga tidak menjadi putus asa. Dalam kesederhanaannya, Patrick tetap memilih menjadi dirinya sendiri meskipun situasi di sekelilingnya terus berubah.

Patrick yang Takut, tetapi Tetap Melangkah

Salah satu ajaran paling mendasar dalam Stoikisme adalah dikotomi kendali (dichotomy of control), yaitu kemampuan membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita—seperti penilaian, pilihan, sikap, dan tindakan—dengan hal-hal yang berada di luar kendali, seperti hasil akhir, perilaku orang lain, atau berbagai peristiwa eksternal.

Dalam perjalanan menuju Shell City di The SpongeBob SquarePants Movie, Patrick dan SpongeBob menghadapi berbagai rintangan, mulai dari monster laut, perjalanan panjang, hingga kemungkinan gagal yang sangat besar. Di tengah perjalanan, Patrick sempat berkata kepada SpongeBob, “SpongeBob, aku takut.”

Patrick jujur mengakui rasa takutnya, tetapi ia tetap melanjutkan perjalanan bersama sahabatnya.

Pada adegan ini Patrick memang tampak penakut. Namun, justru momen tersebut memiliki kemiripan dengan konsep Stoikisme. Stoikisme tidak mengajarkan seseorang untuk menyangkal rasa takut, melainkan untuk tidak membiarkan rasa takut mengendalikan keputusan yang diambil. Patrick merasa takut terhadap monster laut dan beratnya perjalanan, tetapi ia tidak sibuk mengendalikan hal-hal yang berada di luar kuasanya. Ia memilih fokus pada apa yang masih dapat ia lakukan, yaitu terus melangkah bersama sahabatnya.

Saat Nilai Menentukan Pilihan Patrick

Selain dikotomi kendali, Stoikisme juga mengenal konsep prohairesis, yaitu kemampuan manusia menentukan penilaian dan pilihan moralnya sendiri. Konsep ini menjadi inti kehendak bebas dalam Stoikisme. Meski manusia tidak selalu mampu mengendalikan hasil, ia tetap dapat menentukan sikap serta nilai moral yang ingin dipegang.

Di tengah perjalanan berbahaya menuju Shell City, Patrick tidak memilih mundur meski situasi begitu menakutkan. Sebaliknya, ia berkata penuh semangat, “Kita akan berhasil,” lalu bernyanyi “Aku siap” bersama SpongeBob. Pilihan itu didasarkan pada nilai persahabatan yang ia pegang, bukan pada ketakutan bahwa perjalanan mereka mungkin akan berakhir dengan kegagalan.

Contoh serupa juga banyak ditemukan dalam serial SpongeBob SquarePants. Dalam berbagai petualangan absurd, termasuk ketika mereka menjadi superhero, Patrick selalu memilih menemani dan membantu SpongeBob. Walaupun petualangan mereka sering berakhir dengan kekacauan, Patrick tetap memegang teguh nilai persahabatan yang diyakininya.

Patrick menunjukkan kepada kita bahwa filsafat tidak hanya hadir dalam buku-buku tebal, ruang kuliah, atau melalui tokoh-tokoh besar. Filsafat juga dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, seorang tokoh kartun yang terlihat polos sekalipun dapat membantu kita memahami kehidupan dan menyikapinya dengan lebih bijaksana.

Tentu saja, Patrick bukanlah cerminan sempurna dari Stoikisme. Ia sering bertindak ceroboh, impulsif, bahkan mengambil keputusan tanpa banyak pertimbangan. Namun, dalam beberapa momen, Patrick memperlihatkan bahwa seseorang tetap bisa merasa takut tetapi terus melangkah, tetap teguh pada nilai yang diyakininya, serta menerima kenyataan tanpa tenggelam dalam keputusasaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan