Oleh Oktaliansyah
DUDUK bersila di lantai rumahnya di Bengkulu, M. Julian Hawel (17) tak pernah membayangkan bahwa selembar lukisan yang ia kerjakan dengan cinta akan membawanya ke panggung nasional.
Pelajar kelas 11 SMA Negeri 3 Bengkulu ini menjadi sorotan setelah aksinya di acara makan akbar Masjid Raya Baitul Izzah viral. Niat awalnya sederhana, menyerahkan lukisan wajah Willie Salim dan Vilmei langsung kepada sang konten kreator yang ia kagumi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Lukisan itu lebih dulu dibawa ke atas panggung oleh seorang anak kecil, yang mengaku sebagai adik dari pelukisnya. Willie yang terharu, memberikan iPhone sebagai bentuk apresiasi.
Julian hanya tersenyum. Ia tak muncul, tak menuntut klarifikasi. Baru keesokan harinya, ia mengunggah proses pembuatan lukisan itu di akun Instagram pribadinya. Warganet pun ramai-ramai mengungkapkan kekaguman pada ketulusan Julian. Bahkan Willie, setelah tahu cerita sebenarnya, kembali ke Bengkulu untuk menemuinya dan memberikan iPhone terbaru secara langsung.
Cerita ini tak berhenti di sana. Ketulusan Julian menyentuh hati Harjanto Halim, pemilik PT Marimas Putra Kencana.
Julian pun diterbangkan ke Semarang untuk melukis mural di kantor pusat Marimas, Kawasan Industri Candi. Didampingi guru dan orang tuanya, ia menyelesaikan mural bertema “Pesta Buah” di dinding 6×6 meter. Uniknya, mural itu memuat potret Harjanto, Willie, dan dirinya sendiri, sebuah simbol persahabatan dan perjalanan mimpi.
Sebagai bentuk penghargaan, Harjanto menghadiahkan Rp30 juta. Julian menerima dengan penuh rasa syukur. “Hadiah untuk Julian sebagai bentuk apresiasi atas talenta dan prestasi luar biasanya di bidang seni lukis,” ujarnya, Sabtu (19/4/25).
Meski bercita-cita menjadi dokter, Julian membuktikan bahwa seni adalah bagian dari jiwanya. Ia tak hanya menggoreskan cat di kanvas, tapi juga membangun harapan dari sikap sederhana dan ketulusan hati.
Dari kota kecil Bengkulu, Julian memberi pesan besar, bahwa dalam dunia yang serba cepat dan viral, kejujuran dan karya tulus tetap punya tempat, bahkan bisa membawa seseorang melampaui batas-batas ruang dan nama.
Penulis adalah wartawan di Kota Bengkulu





