Nostalgia Berjalan Kaki ke Sekolah
Nostalgia Berjalan Kaki ke Sekolah, Sudut Pandang Okta / foto dok Cirebon Raya

Nostalgia Berjalan Kaki ke Sekolah

Diposting pada

Sudut Pandang Okta

JAM LIMA PAGI alarm alamiku memanggil, bukan bunyi jam atau notifikasi ponsel, tapi suara Ibu yang memanggil dari dapur. Waktu itu, sekitar 27 tahun lalu, di sebuah gang kecil seberang Asrama Korem, biasa kami sebut Asrama Kompi karena berdekatan dengan Kompi B Yonif 144 di Jalan Zainal Arifin Kota Bengkulu.

Selepas shalat Subuh, saya sudah harus menyapu pekarangan dan membuang sampah. Pekerjaan pagi yang menjadi rutinitas wajib sebelum sekolah. Setelah itu, kami mandi bergantian. Saya dan tiga kakak yaitu dua laki-laki dan satu perempuan. Kakak perempuan saya mendapat giliran terakhir karena ia juga harus memasak sarapan dan menggosok baju sekolah kami.

Selesai semua, kami duduk bersama di ruang makan. Sarapan hangat dan pakaian rapi dengan lipatan hasil gosokan tangan kakak membuat pagi itu terasa sempurna. Lalu kami bersiap berangkat ke sekolah. Kakak pertama dan kedua ke arah barat menuju SMK dan SMP, sedangkan saya dan kakak perempuan berjalan ke arah timur, ke SD Negeri 73 Kota Bengkulu.

Hampir semua pelajar waktu itu berjalan kaki. Jalanan kecil Gang Pensiunan ramai oleh anak-anak berseragam, menyapa satu sama lain, saling bercanda. Tidak ada bising mesin motor. Hanya suara langkah kaki, tawa kecil, dan sapaan hangat. Suasana yang kini terasa sangat jauh.

Setelah sekian tahun merantau dan kembali ke Bengkulu, saya tertegun melihat perubahan besar. Anak-anak sekolah kini ramai melintas dengan sepeda motor. Ada yang diantar orang tua, tapi banyak pula yang mengendarai sendiri. Bahkan, siswa SMP pun sudah terbiasa membawa kendaraan, padahal mereka belum cukup umur dan belum memiliki SIM.

Memang, membawa motor memberi kemudahan. Lebih cepat sampai, tidak perlu berpanas-panasan atau kehujanan. Tapi kenyamanan itu datang dengan harga. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar makin sering terjadi. Bahkan, baru-baru ini seorang pelajar 14 tahun berinisial SB meninggal dunia akibat kecelakaan motor di Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma, tepatnya pada 1 Mei 2025 lalu.

Kepalanya luka berat. Ia meninggal dunia di Puskesmas. Tragis dan memilukan. Padahal, semua itu bisa dicegah jika kesadaran kita sebagai masyarakat dan orang tua lebih tinggi.

Pemerintah pun mulai mengambil langkah. Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, mengeluarkan imbauan agar siswa tidak lagi membawa kendaraan ke sekolah. Ia menekankan pentingnya berjalan kaki demi keselamatan pelajar.

“Banyak pelajar membawa kendaraan tanpa SIM, inilah yang menyebabkan banyak kecelakaan. Untuk itu, pelajar yang belum memiliki SIM agar dilarang membawa kendaraan ke sekolah,” ujar Helmi Hasan, (7/5/25).

Kebijakan itu tentu menuai pro kontra. Namun ketika saya melihat sendiri pemandangan beberapa siswa yang kembali berjalan kaki ke sekolah, bercanda dengan temannya di pinggir jalan sambil membawa tas punggung, saya seperti melihat potongan masa kecil saya kembali hidup.

Rasa hangat itu hadir lagi. Ada kedekatan, ada pelajaran tentang kemandirian, dan tentu saja, ada keselamatan yang lebih terjamin. Menurut sudut pandang saya, berjalan kaki ke sekolah bukan hanya soal transportasi. Ini soal nilai. Soal kebersamaan, kedisiplinan, dan kesadaran untuk menjaga diri dan sesama.

Penulis adalah wartawan di Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *