Penulis: Gita El Rahmani
Mahasiswa S1 Jurnalistik, Universitas Bengkulu
Ada momen yang sulit dilupakan ketika kaki pertama kali menginjak pasir Pantai Pekik Nyaring pada 30 Oktober 2025 lalu. Bukan karena keindahannya, melainkan karena kontras yang tampak begitu nyata. Di satu sisi, hamparan Samudera Hindia membentang luas dan biru. Di sisi lain, terlihat bekas rumah yang tak lagi berdiri, pohon-pohon tumbang, serta garis pantai yang terus mundur, seolah bumi sedang menarik napas terakhirnya di sana.
Saya datang bukan sebagai peneliti, bukan pula sebagai pejabat. Saya datang sebagai relawan muda bersama puluhan anak muda lainnya dalam kegiatan Suara Ultra Literasi Lingkungan dan Tindakan Hijau Anak Muda di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Kami membawa karung, bibit pohon, dan niat yang kami harap lebih tahan lama daripada ombak yang terus menerjang pantai itu.
Kegiatan kami sederhana, tetapi terasa berat. Kami membersihkan pantai dari tumpukan sampah berupa kayu sisa abrasi, plastik, dan berbagai material yang terseret arus. Kami juga menanam pohon di sepanjang bibir pantai sebagai upaya mengembalikan sedikit tameng alami yang pernah ada di sana. Hal yang paling berkesan adalah saat kami ikut dalam pelepasan penyu—menyaksikan makhluk purba itu merayap perlahan menuju laut, menuju kebebasan yang entah sampai kapan masih bisa mereka nikmati jika pantai ini terus tergerus.
Tiga kegiatan itu bukan sekadar simbolis. Ada dasar ilmiah di baliknya. Vegetasi pantai seperti cemara laut dan pohon-pohon pesisir berfungsi sebagai penahan gelombang alami. Akar-akarnya memperkuat struktur tanah dan memperlambat laju abrasi. Sementara itu, pelepasan penyu merupakan bagian dari upaya menjaga ekosistem laut yang lebih luas—ekosistem yang juga menjadi sumber penghidupan warga nelayan di Pekik Nyaring.
Data BPBD Kabupaten Bengkulu Tengah mencatat, dalam enam tahun terakhir setidaknya enam unit rumah warga di Desa Pekik Nyaring hancur total akibat abrasi. Sekitar 15 rumah lainnya masih berada dalam ancaman serupa. Abrasi bahkan dikabarkan menggerus garis pantai hingga empat sampai lima meter hanya dalam satu bulan. Penangkaran Penyu Alun Utara, satu-satunya fasilitas konservasi penyu di Provinsi Bengkulu, kini hanya berjarak sekitar tiga hingga empat meter dari bibir pantai.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik dingin. Itu adalah rumah warga. Itu adalah sumber penghidupan nelayan. Itu pula warisan ekologi yang perlahan menuju kepunahan.
Bersih-bersih pantai, menanam pohon, dan melepas penyu mungkin terdengar sederhana. Namun ketika melihat langsung bagaimana daratan berubah menjadi lautan, ketika menyaksikan ombak begitu dekat dengan jendela rumah warga, ada sesuatu dalam diri yang berubah. Kepedulian yang sebelumnya samar, tiba-tiba menjadi tekad yang nyata.
Kami berbincang dengan warga setempat. Mereka bercerita tentang masa ketika pantai itu masih berupa daratan luas dengan deretan pohon cemara yang rindang. Anak-anak bermain di pasir tanpa rasa khawatir. Kini semua itu perlahan hilang, ditelan ombak yang datang tanpa pernah meminta izin.
“Tahun 2019, sekitar 200 meter ke arah laut itu masih daratan,” cerita seorang warga. “Sekarang air laut sudah menghantam rumah kami.”
Kalimat itu terus terngiang lama setelah kami pulang.
Inilah yang membedakan aksi langsung dengan sekadar membaca berita. Ketika berdiri di atas tanah yang sedang hilang, rasa urgensinya menjadi jauh berbeda.
Saya bangga dengan kehadiran kami di sana. Bangga karena di tengah segala kemudahan untuk tetap di rumah dan sibuk menggulir media sosial, masih banyak anak muda yang memilih hadir, mengotori tangan, dan memberi kontribusi nyata.
Laporan Youth Sustainability Index 2025 dari YouthLab Indonesia dan WWF Indonesia menunjukkan bahwa anak muda Indonesia sebenarnya memiliki tingkat kepedulian lingkungan yang tinggi. Namun, masih ada kesenjangan antara rasa peduli dan tindakan nyata. Kegiatan seperti yang kami lakukan di Pekik Nyaring menjadi salah satu upaya menjembatani kesenjangan tersebut.
Gerakan anak muda untuk lingkungan pesisir kini terus tumbuh di berbagai penjuru Indonesia. Dari penanaman mangrove di pesisir Jakarta hingga aksi konservasi di Lombok, dari Bengkulu hingga Maluku. Anak muda mulai memahami bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan yang abstrak, melainkan sesuatu yang sudah terjadi sekarang, tepat di depan mata.
Namun ada satu hal yang selalu menghantui saya setiap kali pulang dari kegiatan seperti ini: setelah kami pergi, lalu apa?
Pohon yang kami tanam membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh menjadi pelindung yang efektif. Sampah yang kami angkut hari itu akan digantikan lagi oleh sampah yang dibawa ombak. Dan penyu yang kami lepas—apakah pantainya masih akan ada ketika mereka kembali untuk bertelur?
Kami, anak muda, bisa datang kembali bulan depan atau tahun depan. Namun kami tidak bisa menggantikan fungsi tanggul. Kami tidak bisa menghentikan gelombang dengan tangan kosong.
Di mana peran pemerintah?
Ini mungkin pertanyaan yang paling sulit diajukan, tetapi juga yang paling penting dijawab.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah memang tidak sepenuhnya absen. BPBD turun ke lapangan ketika abrasi terjadi. Koordinasi lintas instansi juga telah berjalan. Kapolda Bengkulu bahkan sempat mengunjungi lokasi konservasi penyu secara langsung. Semua itu patut diapresiasi.
Namun apresiasi tidak boleh berhenti di sana. Sebab hingga hari ini, belum ada tanggul permanen yang dibangun di Pantai Pekik Nyaring. Pengelola konservasi penyu diketahui telah mengajukan permohonan bantuan sejak 2024 ke berbagai pihak. Akan tetapi, bantuan yang diterima sejauh ini baru berupa karung penahan ombak sementara yang tidak cukup kuat menghadapi gelombang Samudera Hindia.
Pemerintah pusat sebenarnya telah menegaskan komitmen terhadap perlindungan ekosistem pesisir, termasuk melalui pengesahan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Kebijakan nasional itu sudah ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah penerjemahan konkret di tingkat daerah.
Bagi Bengkulu Tengah, bentuk konkret itu adalah pembangunan tanggul permanen, restorasi vegetasi pesisir yang terencana, serta sistem peringatan dini abrasi yang dapat diandalkan.
Apa yang kami lakukan sebagai anak muda—membersihkan pantai, menanam pohon, dan melepas penyu—adalah bentuk kepedulian yang tulus. Namun kepedulian itu akan sia-sia jika tidak didukung oleh kebijakan yang sebanding dengan skala persoalan yang dihadapi. Kami bisa menanam seribu pohon, tetapi jika tanggul tidak dibangun, ombak bisa merobohkan semuanya hanya dalam satu malam yang buruk.
Kolaborasi antara gerakan anak muda dan pemerintah bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat. Anak muda dapat mengisi ruang dengan aksi cepat dan energi segar. Namun hanya pemerintah yang memiliki kapasitas menghadirkan solusi struktural jangka panjang.





